Senin, 15 September 2014 | 09:01 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham-saham Ini Menarik Jika Stock Split
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Jumat, 15 Maret 2013 | 06:45 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Saham-saham yang mudah terserap investor ritel dalam kisaran harga Rp200-2.000. Inilah saham-saham yang sangat atraktif jika nilai nominalnya dipecah (stock split).

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, tidak semua emiten yang sudah mahal punya rencana stock split (memecah nilai nominal saham). “Dengan nominal saham yang tinggi, OJK minta supaya dipecah agar masyarakat golongan bawah bisa membeli dengan jumlah saham yang lebih likuid,” katanya kepada INILAH.COM.

Dia mencontohkan, jumlah saham beredar hanya 1 miliar. Dengan dipecah 1:5, menjadi 5 miliar sehingga menjadi lebih likuid. Sedangkan dari sisi harga, dari Rp10.000, dipecah jadi Rp2.000 sehingga tercipta daya beli lebih baik. “Jadi, stock split yang diwajibkan OJK akan turut meramaikan pasar. Seharusnya, emiten pun setuju-setuju saja,” ujarnya.

OJK, kata dia, ingin meramaikan pasar agar semua golongan investor bisa membeli saham. “Kita ambil contoh, PT Astra International (ASII) yang tembus Rp80.000 per saham. Dengan di-split menjadi Rp8.000 semua investor bisa beli,” timpalnya.

Yang jadi masalah, jika emiten tidak punya rencana, sehingga stock split sulit dilaksanakan. “Padahal, kita lihat setelah IHSG terus mencetak rekor tertinggi menuju 5.000, akan banyak saham yang secara nominal sudah cukup tinggi dan tetap akan diburu pelaku pasar,” tuturnya.

Secara teknis, kata dia, stock split bisa merugikan emiten karena harus menambah satu pekerjaan dan menata kembali saham-saham mereka. Selain itu, emiten harus menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk membahasnya. “Dampak ke perusahaan, secara fundamental, tidak akan berdampak langsung. Stok split akan berdampak positif untuk jangka panjang,” timpal dia.

Dia menegaskan, suatu emiten yang tidak punya rencana stock split dan tiba-tiba diwajibkan stock split, pasti akan kalangkabut. “PT Astra International (ASII) saja lama sekali merencanakan stock split dan pada akhirnya baru terlaksana setelah memakan waktu panjang dan perdebatan a lot,” kata dia.

Stock split, kata dia, merupakan aksi korporasi yang rumit dan tidak segampang membalik telapak tangan. Emiten harus menghitung saham yang beredar dan faktor lain. Saat IHSG terus mencetak rekor, timing stock split juga perlu diperhatikan.

Dari sisi emiten yang akan stock split dan berberfundamental positif, menurut dia, bisa memberikan potensial gain yang besar bagi pemodal. “Artinya, harga saham bisa kembali ke harga semula,” papar Willy.

Hal seperti ini terjadi pada PT Vale Indonesia (INCO) yang stock split 1:10, lalu harganya turun ke harga split-nya dan menguat ke atas Rp100 ribu, lalu di-split kembali 1:3 dan akhirnya kembali lagi ke harga semula. “Selama sejarah di BEI ada terjadi seperti itu. Apalagi, INCO mendapat dukungan sektor pertambangan yang sedang booming saat itu,” ungkap dia.

Sebaliknya, kata dia, jika fundamental emiten kurang bagus dan kondisi pasar tidak mendukung, stock split bisa saja memicu penurunan harga saham ke bawah harga split-nya. “Hukum harga di pasar tidak ada yang bisa mengikat bahwa pasti harga saham tidak akan turun dan pasti harga suatu saham tidak akan naik,” ucapnya. “Tapi, bahwa harga saham itu fluktuatif, itu pasti. Tanpa stock split pun, saham bisa fluktuatif.”

Di atas semua itu, Willy melihat peluang stock split saham PT Gudang Garam (GGRM) karena harga di atas Rp50.000. Sebab, dengan harga sekarang, banyak investor yang tidak melakukan akumulasi beli saham GGRM. “Jika dipecah 1:10, harganya menjadi Rp5.000 sehingga terjangkau oleh investor dan jumlah lot saham menjadi banyak. Semua golongan investor terutama investor ritel bisa masuk ke dalamnya,” tuturnya.

Saham-saham yang harganya di atas Rp100.000 per saham dan lotnya tidak likuid di pasar, antara lain saham PT Multi Bintang Indonesia (MLBI), PT Delta Djakarta (DLTA), PT Taisho Pharmaceutical Indonesia (SQBI), dan PT Merck (MERK). MLBI Rp903.000, DLTA Rp310.000, MERK Rp152.000; dan SQBI Rp234.000.

Lalu, PT HM Sampoerna (HMSP) Rp77.000, GGRM Rp50.100; PT Sepatu Bata BATA) Rp55.000; PT Indo Tambang Raya Megah (ITMG) di Rp40.250. “Sebab, ITMG merupakan saham yang cukup baik sehingga harus bisa diakses semua lapisan investor,” tuturnya.

PT Mayora Indah (MYOR) di Rp27.000 juga harus stock split karena terlalu jauh harganya dibandingkan PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA). PT Sarana Menara Nusantara (TOWR) Rp26.000.

Lalu, PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) di Rp22.900; PT Unilever Indonesia (UNVR) di Rp22.800; PT United Tractor (UNTR) Rp22.200; PT Astra Agro Lestari (AALI) Rp18.950; PT Semen Indonesia (SMGR) Rp17.950 dan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) di Rp14.800.

Menurut dia, harga saham pada level-level tersebut terlalu besar dan sahamnya tidak terlalu likuid. Dengan stock split diharapkan bisa menjadi likuid. “Harga saham yang paling enak terutama untuk investor ritel adalah dalam kisaran Rp200-2.000 per saham,” ungkap dia.

Pada kisaran harga tersebut gampang terserap. Untuk investor besar, tinggi rendah harga saham, bukan masalah. Sebab, mereka membeli tidak didasarkan pada nominal saham melainkan persentasenya. Beda dengan nasabah ritel yang pembelian sahamnya didasarkan pada nominal saham. “Punya uang Rp10 juta, ya beli saham seharga Rp200 per saham. Tidak peduli persentasenya, 5-10% dia tetap mainkan,” imbuhnya.

Jika stock split, Willy melihat beberapa saham yang menarik. Saham-saham tersebut adalah ITMG, MYOR, AALI, UNTR, UNVR, INTP, dan SMGR. Sebab, saham-saham tersebut akan bersaing di sektornya. “Misalnya, bandingkan SMCB Rp3.600 sedangkan INTP di Rp22.900 dan SMGR Rp18.300. Sahamnya akan menjadi lebih likuid dan lebih bagus,” ujarnya.

GGRM juga menarik karena masih ramai ditransaksikan. GGRM, jika di-split ke Rp5000-an menjadi menarik karena harganya berdekatan dengan PT Astra International (ASII) sehingga invetor ritel punya pilihan saham bluechips lainnya meskipun beda sektor. “Jika Usulan OJK bisa diterima oleh emiten, saham-saham tersebut sangat menarik,” ucapnya. Akan banyak pemodal yang masuk ke saham-saham tersebut.

Jika OJK mewajibkan stock split atas saham-saham tersebut sejak sekarang, otomatis pemodal harus segera akumulasi beli. Tapi, karena belum direalisasikan dan masih butuh waktu minimal 6 bulan untuk stock split, akumulasi tidak bisa segera dilakukan atas pertimbangan stock split.

“Selebihnya, pergerakan sahamnya tidak menarik karena agak mati sehingga harus dilihat pada saat nanti setelah stock split. Sekarang belum ada gambaran untuk MLBI, DLTA, dan lain-lain yang hampir tidak tiap hari ada transaksi. HSMP juga mati, karena jumlah saham yang beredar tinggal sedikit,” imbuhnya.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.