Senin, 22 Desember 2014 | 11:08 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Prospek Saham KAEF & INAF Tetap Oke
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Kamis, 10 Januari 2013 | 08:14 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Meski rencana regrouping belum terwujud, saham KAEF dan INAF dinilai tetap prospektif seiring positifnya kinerja fundamental. Inilah target harganya untuk jangka menengah.

Pada sesi pertama perdagangan Kamis (10/1/2013) hingga pukul 10.50 WIB, saham PT Kimia Farma (KAEF) ditransaksikan melemah Rp10 (1,35%) ke angka Rp730 sedangkan PT Indofarma (INAF) stagnan di Rp300 per saham.

Pengamat pasar modal Sem Susilo melihat positif prospek saham KAEF dan INAF meski rencana regrouping kedua emiten ini masih belum terwujud. Sebab, saat ini merupakan era Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

Pada era Dahlan, kata dia, semua manajemen BUMN menjadi lebih transparan dari sisi Good Corporate Gavernannce (GCG). Begitu juga dengan KAEF dan INAF. “Di era transparansi, kinerja KAEF dan INAF menjadi positif. Apalagi, kedua emiten ini merupakan BUMN,” katanya kepada INILAH.COM.

Secara fundamental, Sem menjelaskan, KAEF mendapat pesanan pembuatan obat dari proyek-proyek pemerintah. Pada saat yang sama, kata Sem, menteri BUMN sendiri punya ambisi untuk memiliki perusahaan farmasi yang besar dan go internasional. “Jangan kalah sama PT Kalbe Farma (KLBF),” ujar dia.

Pada akhirnya, Sem menegaskan, semua perusahaan milik negara adalah yang menang karena punya keunggulan kompetitif dan komparatif. “Kedua saham ini sangat aman karena sektor farmasi yang berbasis domestic demand dan punya negara,” timpal Sem.

Sementara itu, kata dia, soal regrouping cepat atau lambat akan terwujud. “Ini hanya soal waktu saja. Tidak masalah memegang saham ini untuk jangka panjang. Hanya saja, untuk saat ini tampak harga sahamnya agak cukup tinggi,” ungkap dia.

Dia menyarankan, untuk beli saham KAEF, para pemodal lebih baik menunggu hingga Moving Average (MA) 60. Tapi, level ini masih terlalu jauh, di posisi Rp600-an. “Untuk KAEF bisa beli di level Rp700. Di level ini sudah mulai berani beli. Untuk jangka menengah, 3-6 bulan, KAEF bisa menguat ke Rp1.000,” tuturnya.

Sementara itu, lanjutnya, level pembelian INAF, sudah bisa dilakukan di Rp300. Pasalnya, level tersebut merupakan level support psikologis. “Lebih aman jika menunggu MA60 di sekitar Rp250. Tapi, sepertinya, level ini sulit dan tak mungkin dicapai,” ujarnya. Untuk jangka menengah, 3-6 bulan, Sem menargetkan penguatan harga saham INAF ke Rp500.

Namun demikian, jika memilih antara kedua saham tersebut, Sem menilai, KAEF lebih menarik daripada INAF. Sebab, KAEF merupakan induk dengan kapitalisasi pasar yang besar. Selain itu, publik sudah tahu, KAEF memiliki apotik yang menyebar di mana-mana. “KAEF juga masuk pada sektor rumah sakit dan memproduksi obat-obat baru,” ungkap dia.

Hanya saja, dia menggarisbawahi, kedua saham ini lebih cocok disimpan untuk jangka menengah. Untuk trading di harga tinggi, kedua saham ini agak berisiko sehingga bisa turun saat selesai melakukan pembelian dan bisa naik saat baru saja melakukan aksi jual. “Tapi, bagi yang sudah memegang saham ini, saat ini masih bisa di-hold,” ucap dia.

Dari sisi Price to Earnings Ratio (PER), Sem menilai KAEF masih oke dan tidak terlalu mahal. Di sektor farmasi, KAEF masih termasuk murah dengan PER 21 kali. “Apalagi, jika dibandingkan dengan KLBF yang sudah mencapai 33 kali dan PER INAF berada di level 38 kali,” timpal dia.

Karena itu, dia menjagokan KAEF karena sebagai induk dari farmasi negara, berkapitalisasi pasar yang besar, dan PER yang masih murah. “Tradisi kita, dari satu sektor atau group saham, kita pilih satu saham yang terbaik untuk mengelola risiko yang terbaik juga,” imbuhnya.

Secara terpisah, analis senior Dandossi Matram mengatakan, kenaikan saham KAEF bukan dipicu oleh rencana regrouping dengan INAF melainkan karena memang kinerja KAEF yang bagus. “Jika dikatakan, ada kaitannya dengan akuisisi INAF, enggak juga,” tuturnya.

Pasalnya, berita tentang akuisisi itu sudah berjalan sejak 2000 sehingga regrouping bukan berita baru. Berita itu selalu muncul tiap tahun dan hingga sekarang belum ada realisasinya. “Sejak tahun 2000, saat kinerja emiten biasa-biasa saja pun, berita akuisisi itu tidak berpengaruh ke harga sahamnya,” timpal dia.

Hanya saja, dalam tiga tahun terakhir kata dia, kinerja KAEF terus mengalami kenaikan dan kebetulan kondisi pasar juga sedang positif sehingga harga saham KAEF naik. “Jadi, kenaikan saham KAEF lebih karena faktor positifnya perekonomian Indonesia dan kedua kinerja KAEF memang lebih bagus daripada waktu-waktu sebelumnya,” tandas dia.

Kinerja keungan KAEF terus meningkat. Pada 2012, laba bersih yang diraih diperkirakan mencapai Rp210 miliar atau 23,5% lebih tinggi dari untung yang diraih pada 2011. Sementara untuk 2013, manajemen menargetkan kenaikan laba menjadi 230 miliar.

Kinerja INAF juga tak kalah mencorong. Produsen obat generik terbesar ini, tahun lalu diperkirakan meraih untung sebesar Rp75 miliar atau naik 108%. Karena itu, tak heran jika sepanjang 2012, harga saham INAF mencatatkan kenaikan hampir 100%.

Jadi, kata Dandossi, soal regrouping, tinggal masalah waktu. Investor sabar saja dulu dan tidak masalah meng-hold kedua saham ini. Dandossi percaya KAEF akan terus membaik.

Sebab, perusahaan ini semakin positif dari sisi GCG-nya yang diterapkan secara ketat dan bisnisnya berorientasi pasar. “KAEF juga menguasai sektor ritel untuk farmasi yang merupakan nilai yang tidak dimiliki oleh kompetitor farmasi di Indonesia. Siapa raja apotik di Indonesia kalau bukan Kimia Farma,” imbuhnya.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.