Sabtu, 22 November 2014 | 09:41 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Enam Saham Potensial Naik di Akhir Tahun
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Selasa, 18 Desember 2012 | 06:45 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Hingga akhir tahun, laju IHSG diprediksi ranging dalam kisaran 4.300-4.400 seiring pelemahan rupiah yang terus terjadi. Tapi, enam saham potensial naik hingga akhir 2012. Apa saja?

Pada perdagangan Senin (17/12/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 6,99 poin (0,16%) ke posisi 4.315,857 dengan intraday tertinggi 4.326,06 dan terendah 4.294,376. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45 yang menguat 1,67 poin (0,23%) ke angka 737,557.

Yuganur Wijanarko, Kepala Riset HD Capital masih optimistis untuk arah IHSG hingga akhir tahun. Hanya saja, menurut dia, indeks tampak masih ditahan bolak-balik dalam kisaran trading. “Jadi, arahnya sangat tergantung pada bursa regional terutama Dow Jones Industrial Average (DJIA),” katanya kepada INILAH.COM.

Dalam sepekan ke depan dan hingga akhir tahun, dia memperkirakan indeks bergerak ranging dalam kisaran support pertama 4.300 dan support kedua 4.250. Sedangkan resistance berada di level 4.000. “Jadi, kemungkinannya indeks akan bermain antara 4.300 hingga 4.400,” ujarnya.

Dalam sepekan ke depan, kata dia, jika indeks naik, potensinya ke level 4.350-4.400. Jika tidak kuat naik, ada potensi turun ke 4.300-4.250. “Jadi, pergerakan indeks masih akan berada dalam trading range tersebut,” tandas dia.

Yuganur menargetkan, IHSG akhir tahun di level 4.350-4.375 yang merupakan angka realistis. “Jika indeks naik ke 4.400 atau ke atasnya, itu merupakan bonus. Jadi, kisaran lebarnya 4.250-4.400 dan kisaran tengahnya, 4.300-4.400,” tuturnya.

Dia menjelaskan, terhambatnya penguatan IHSG dipicu oleh pelemahan rupiah yang berada dalam kisaran 9.600-9.700 per dolar AS dan faktor bursa regional. Dari sentiment fundamental, kekhawatiran pasar atas jurang fiskal di AS cukup berpengaruh pada pergerakan Dow Jones Industrial Average (DJIA).

Tapi, kata Yuga, yang potensial membuat tertekannya bursa Dow Jones, sepertinya tidak semata faktor fiscal cliff melainkan juga karena faktor beberapa emiten di AS yang melaporkan kinerja keuangan di bawah ekspektasi untuk kuartal IV-2012. “Karena IHSG di-maintain dalam kisaran trading,” tegas Yuganur.

Sementara itu, faktor window dressing bisa saja mendorong penguatan indeks ke 4.400. Tapi, mungkin juga tidak. Dia memperkirakan, window dressing kemungkinan lebih berpeluang terjadi pada-saham second liners dibandingkan saham-saham bluechips.

Untuk saham-saham bluechips memang punya potensi kenaikan. Hanya saja, upside potential-nya lebih besar pada saham-saham second liner. “Jadi, pergerakan pasar hingga akhir tahun, sekitar 60-70% dikuasai second liner dan ini juga yang terjadi dalam sepekan terakhir,” timpalnya.

Hingga akhir tahun, kata dia, saham-saham second liner memiliki upside potential 10-20% sesuai dengan risikonya. “Saham-saham second liner yang lama tidak bergerak dalam enam bulan terakhir kadang diangkat di akhir tahun,” ungkap dia.

Dia menegaskan, pergerakan saham lapis dua dipicu oleh aksi korporasi yang dilakukan di akhir tahun seperti rights issue atau ada placement saham. “Tapi, untuk soal aman, lebih baik main bluechip meski potensi kenaikannya tidak sebesar second liner di akhir tahun. Tapi, bluechips sudah pasti naik,” tandas dia.

Untuk potensi penguatan saham-saham bluechips paling-paling tinggal 5-7%. Hing risk-high return dan sebaliknya. “Meski begitu, saya lebih cenderung merekomendasikan saham-saham bluechips dibandingkan second liner,” ucapnya.

Menurut dia, salah satu saham yang akan terdongkrak window dressing adalah saham PT Astra International. “Peraturan pembatasan pemakaian kendaraan dengan pelat nomor ganjil-genap justru jadi sentimen positif bagi ASII,” tandas dia.

Jadi, lanjutnya, dalam situasi suku bunga rendah, peraturan ganjil-genap, pembeli motor dan mobil semakin meningkat. “Orang ingin menambah 1 motor dan 1 mobil jadi minimal dua dengan nomor yang satu genap dan yang satu ganjil. Pembeli bisa memesan plat nomor baik ganjil maupun genap. Jika diterapkan sistem stiker, baru penjualan ASII tak jalan,” ungkap dia.

Sementara itu, saham UNVR masih turun gara-gara pembayaran royalty. “Tapi, saya rekomendasikan buy on weakness untuk UNVR,” tuturnya. “Saya lihat yang akan men-drive pergerakan indeks adalah ASII dan saham-saham perbankan,” tuturnya.

Di atas semua itu, dia merekomendasikan enam saham untuk bekal akhir tahun. PT Astra International (ASII) dengan support Rp7.250 dan resistance Rp7.700; PT Bank Mandiri (BMRI) dengan support Rp8.000 dan resistance Rp8.300; PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan support Rp6.950 dan resistance Rp7.300;

PT Bank Central Asia (BBCA) dengan support Rp8.700 dan resistance Rp9.600; PT Indo Tambang Raya Megah (ITMG) dengan support Rp41.000 dan resistance Rp43.000; dan PT Unilever Indonesia (UNVR) dengan support Rp20.000 dan resistance Rp24.000.

Itulah, kata Yuga, saham-saham yang potensial naik hingga akhir tahun. “Saya rekomendasikan Buy on Weakness saham-saham tersebut. Di setiap kali ada penurunan, lebih baik beli saham-saham itu,” imbuhnya.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.