Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 17 November 2018 | 13:24 WIB

Kolom Andi Suruji

Petani Tua, Warren Buffett, dan Lo Kheng Hong

Oleh : Andi Suruji | Senin, 10 Desember 2012 | 08:03 WIB

Berita Terkait

Petani Tua, Warren Buffett, dan Lo Kheng Hong
Lo Keng Hong - ist

INI kisah sukses. Seorang yang semula miskin, menjadi kaya raya dengan berinvestasi di pasar saham. Dividen dari puluhan perusahaan yang dia miliki sahamnya, bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sampai generasi berikut. Tidak perlu memiliki dan mengelola usaha dengan aneka kepusingannya.

Itulah Lo Keng Hong, yang tampil berbicara di atas podium Investor Summit, yang digelar Bursa Efek Indonesia, di Jakarta dan di Surabaya pekan lalu. Selain dia, juga tampil Satrio Yudi Wahono, yang populer dengan nama Piyu, musisi yang juga menceritakan kisah suksesnya berinvestasi saham.

Lo Keng Hong (52) semasa kecil, hidupnya susah. Rumahnya di Jakarta sempit, hanya selebar empat meter. "Suatu ketika, ada teman adik saya yang mau ke rumah. Tetapi adik saya itu membawa temannya berputar-putar, sehingga temannya ketinggalan, lalu tidak jadi ke rumah. Adik saya bilang, malu punya rumah kecil," papar Lo Keng. Kiranya cerita itu cukup menggambarkan kemiskinan yang mendera keluarga Lo Kheng Hong dulu.

Sudah 20 tahun lebih Lo Kheng berinvestasi di bursa. Meski memiliki pengalaman panjang, dia tidak ingin melakukan diversifikasi ke instrumen investasi lainnya, semisal emas. Ia setia dan fokus pada saham. Kalau pun melakukan diversifikasi, hanya sebatas variasi usaha emiten.

Boleh dikata, tidur pulas pun Lo Kheng Hong bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk keuntungan investasi (capital gain) hingga 150.000%. Asetnya disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia mengoleksi saham yang mampu mencetak keuntungan investasi hingga ratusan, ribuan persen.

Kendati kaya raya, pria berusia 52 tahun ini tidak punya karakter dan penampilan glamour, agresif, dinamis, meledak-ledak. Ia bersahaja, sabar, rendah hati, kalem, bahkan terkesan dingin. Itulah kesan saya ketika bertemu dan bersalaman dan berkenalan di Surabaya.

Ia bukan pula tipikal investor yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai bursa. Ia juga tidak melengkapi diri dengan handphone canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat paling mutakhir sejenisnya. Bahkan ketika saya meminta dia melihat miscall nomor saya di teleponnya, pria yang berambut putih karena ubanan ini malah tersenyum kecil. "Hp saya charge di hotel dan saya lupa bawa," katanya.

Apa kiatnya? Horizon investasinya selalu berjangka panjang. Bukan trader harian, lalu stres juga setiap saat. Itulah sebabnya, kalangan praktisi pasar saham menjulukinya Warren Buffett Indonesia.

Dalam bukunya, Warren Buffett memang menyatakan, jangan membeli saham, tetapi belilah perusahaan. Artinya, belilah saham perusahaan yang baik fundamentalnya, sejarah kinerjanya bagus, dan paling penting memiliki prospek bisnis bagus. Bagi Lo Kheng Hong, ia tambahkan faktor manajamen. Alasannya, manajemen yang baik akan mengelola perusahaan secara baik pula. Tidak suka mencuri uang perusahaan dengan aneka modus.

"Kalau trading, dapatnya receh dan bisa bikin stres. Pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya besar," ujar Kheng Hong. Dengan prinsip itulah ia justru lolos dari badai krisis 1997-1998. Bahkan, boleh dikata krisis membawa berkah ayah dua anak ini, karena mampu menangguk keuntungan hingga 150.000%.

Bukan berarti dia tak pernah bermasalah dengan investasinya. Ia sempat jatuh dalam krisis 1997-1998, hingga uangnya tinggal 15%. Tapi uang itu malah dibelikan saham lagi. Akhirnya uang itu meningkat 150.000% sampai saat ini.

Ada petuah juga yang patut dicamkan bagi investor pemula. Perlakukanlah investasi kita sebagaimana seorang petani memperlakukan pertaniannya. Ia hanya datang sesekali ke kota untuk mengecek hasil investasinya, kemudian memilih saham yang akan dibeli untuk menambah portofolionya, setelah itu ia kembali ke desa. Ia tidak pernah melihat pergerakan indeks harga saham seperti trader dengan cerita heboh.

Kisah-kisah sukses inilah yang hendak dibagi Bursa Efek Indonesia kepada invenstor potensial di daerah dengan menggelar Investor Summit. Selain mendengar kisah dan kiat investor sukses, investor juga berkesempatan bertemu manajemen perusahaan. Untuk mencapai kemakmuran, memang hanya dua sumbernya. "Penghasilan dan investasi," ujar Friderica Widyasari, Direktur BEI.*

Andi Suruji, CEO & Editor in Chief Inilah.com Group. Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-15 Tahun II yang terbit Senin, 10 Desember 2012. [tjs]

Komentar

x