INILAH.COM, Jakarta - Sudah lebih dari sepekan harga Perusahaan Gas Negara (PGAS)berada di level 4.000-an. Rekomendasi beli pun semakin kencang.
Tarik ulur haga jual gas antara kalangan pengusaha dan pemerintah (sebagai pemilik PT Perusahaan Gas Negara), masih berlangsung ketat. Kendati pihak PGN sudah mengalah dengan memberlakukan harga baru pada awal 2013 secara bertahap. Namun hiruk-pikuk itu takmembuat sahamnya y angberkode PGAS menjadi oleng.
Bahkan sebaliknya, terus menunjukkan penguatan seiring sentimen poisitif yang bertiup di dalam dan luar negeri. Jika dihitung sejak awal September, harga saham ini telah menguat Rp 450 atau sekitar 12,16%.
Semangat investor untuk mengoleksi saham ini semakin membesar tatkala manajemen mengumumkan sejumlak aksi korporasi yang akan ditempuh. Salah satunya adalah rencana mengakuisisi dua blok migas di dalam dan luar negeri senilai Rp 5 triliun. Jika jadi, pengambil-alihan dua lapangan tersebut akan dibiayai oleh dana sendiri. Asal tahu saja, kas perseroan per Juli lalu masih cukup gemuk dengan likuiditas senilai Rp 11 triliun.
Tapi yang tak kalah menariknya adalah pernyataan manajemen tentang target laba yang diraih. Semula, untuk tahun ini, perseroan memasang target peningkatan laba sebesar 10% menjadi Rp 6,72 triliun. Namun setelah melihat kondisi perekonomian yang mendukung, angka itu dinaikan menjadi Rp 7,1 triliun.
Itu bukan prediksi asal bunyi. Bahkanbukanmustahil akan terlampui. Sebab pada semester pertama yang baru lalu, PGAS berhasil mencatatkan laba bersih US$ 423,27 juta tau sekitar Rp 4 triliun (dengan kurs Rp 9.500.
Makanya tidak aneh jika sahamnya tetap mendapatkan rekomendasi beli. Sejumlah analis memasang target untuk PGAS di level Rp 4.650 – Rp 4.700. Dibanding harga penutupan kemarin (Rp 4.150), berarti saham ini masihmemiliki potensi penguatan sebesar 12% - 13%.
Kecuali jika kondisi memburuk, investor disarankan untuk melepasnya di level Rp 4075.[ast]