INILAH.COM, Jakarta – Kegagalan menembus resistance 4.250 kemarin, membuat IHSG tetap berada dalam tren turun jangka pendek. Tapi, masih dalam tren naik jangka menengah. Aksi buy on weakness dinilai cukup menarik.
Pada sesi pertama perdagangan Kamis (20/9/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 18,98 poin (0,45%) ke angka 4.225,735. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang turun 4,83 poin (0,66%) ke angka 726,226.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, Dow Jones Industrial Average (DJIA) semalam hanya naik tipis 0,1% sebagai reaksi atas data perumahan yang diatas ekspektasidan stimulus ekonomi yang dilakukan oleh Jepang. “Kenaikan yang hanya tipis ini, sentimennya sedikit negatif bagi bursa di kawasan Asia setelah kemarin mengalami kenaikan rata-rata lebih dari 1%,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (20/9/2012).
IHSG kemarin sore, lanjutnya, gagal untuk ditutup diatas resistance4.250. Ini membuat indeks masih tetap berada dalam trend turun jangka pendek. “Kondisi pasar terlihat agak mengkhawatirkan karena koreksi yang terus terjadi pada harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Ini bisa memancing aksi profit taking pada saham-saham komoditas,” tuturnya.
Namun demikian, Satrio menilai, keberadaan trennaik jangka menengah membuat posisi buy on weakness tetap menarik untuk dilakukan. “Terutama, ketika IHSG berada di kisaran supoort 4,170-4.205,” tandas dia.
Di atas semua itu, dia memperkirakan IHSG hari inibergerak bervariasi pada kisaran support 4.205dan resistance 4.300.Satrio merekomendasikan buy on weakness (BoW) saham PT United Tractor (UNTR), PT Bukit Asam (PTBA), PT Semen Gresik (SMGR), PT Indocement Tunggal Prakasa (INTP), PT Timah (TINS), PT Vale Indonesia (INCO), PT Medco Energi (MEDC), PT Gudang Garam (GGRM),dan PT Unilever Indonesia (UNVR).