INILAH.COM, Jakarta – Secara teknikal, laju IHSG Rabu (19/9/2012) diprediksi variatif sebelum menembus resistance atau support jangka pendek. Meski begitu, saham-saham batu bara tetap jadi idola.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, koreksi indeks kemarin, memang mengakhiri tren naik untuk jangka pendek. Tapi, paling tidak, kalau saya lihat tren indeks masih mendatar dengan support di 4.170-4.205 dan resistance 4.235-4.272.
Dia merekomendasikan buy on weakness saham-saham batu bara. “Saham-saham batu bara masih menjadi idola. Hanya saja pasar harus mencari harga yang bagus untuk reakumulasi,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Selasa (18/9/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 31,39 poin (0,74%) ke angka 4.223,894 dengan intraday tertinggi 4.249,43 dan terendah 4.198,897. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang turun 5,30 poin (0,72%) ke angka 727,569. Berikut ini wawancara lengkapnya:
IHSG melemah 0,74% kemarin. Apa yang terjadi?
Begini ceritanya, kenaikan IHSG dan bursa regional yang sudah terjadi beberapa hari sebelumnya, sudah membuat pelaku pasar mulai takut terhadap kemungkinan aksi profit taking. Padahal, jika melihat posisi terakhir dari bursa regional sebenarnya tidak terlihat adanya sinyal bearish. Posisi Hang Seng Index (HSI) masih di atas support 20.500. Begitu juga dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang tutup masih di atas support. Tapi, pemodal yang terlihat khawatir, mulai memilih untuk melakukan aksi profit taking atas sebagian keuntungan yang sudah dimiliki.
Pada saat yang sama, tekanan jual pada saham-saham di sektor konsumsi seperti PT Gudang Garam (GGRM) dan PT Unilever Indonesia (UNVR) juga jadi tekanan negatif bagi IHSG. Dua saham itu yang kemudian membuat IHSG cenderung terkoreksi. Dan ini kemudian, memicu profit taking pada saham-saham yang lain.
Bagaimana dengan sentimen sengketa pulau antara China dan Jepang?
Soal sengketa pulau, antara China dengan Jepang, tidak jadi tekanan yang sangat negatif ke pasar. Kalau kita lihat dari permasalahan yang ada memang merupakan konflik wilayah yang terjadi di tengah kondisi ekonomi dunia yang sedang melambat. Ini juga menyumbang sentimen tapi saya kira itu bukan sentiment utama.
Kalau bagitu, bagaimana Anda melihat arah IHSG Rabu (19/9/2012) ini?
Kecenderungan pasar Rabu ini adalah variatif. Koreksi indeks kemarin, memang mengakhiri tren naik indeks untuk jangka pendek. Tapi, paling tidak, kalau saya lihat tren indeks masih mendatar dengan support di 4.170-4.205 dan resistance 4.235-4.272.
Untuk jangka menengah?
Untuk jangka menengah, tren IHSG masih naik dengna support di 4.129. Selama indeks tidak tembus support tersebut, tren jangka menengah masih naik. Tapi, jika tiba-tiba IHSG ditutup di bawah level tersebut, pemodal harus siap-siap bahwa pelemahan saat ini jadi sinyal bearish.
Karena itu, kalaupun naik, selama IHSG tidak ditutup di atas 4.272, arah pasar tetap mendatar. Dalam kondisi ini, biasanya orang akan cenderung buy on weakness ketika IHSG berada di level support dan cenderung sell on strength jika indeks berada di level resistance.
Saham-saham pilihan Anda?
Jika mau buy on weakness, bisa dilakukan pada emiten-emiten di sektor batu bara. Tapi, untuk saat ini masih agak jauh. Saham-saham pilihan adalah PT United Tractor (UNTR) yang bisa buy on weakness di level Rp21.500, PT Bukit Asam (PTBA) di kisaran Rp15.000-15.500, PT Indo Tambang Raya (ITMG) di Rp38.000-37.000, dan PT Bumi Resources (BUMI) di Rp750-700. Pada level-level itu baru bisa dibeli.
Jadi, saya rekomendasikan buy on weakness saham-saham tersebut. Saham-saham batu bara masih menjadi idola. Hanya saja pasar harus mencari harga yang bagus untuk reakumulasi. Dalam dua hari ke depan, level-level itu harus dicermati.