INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kemarin anjlok dan mencatatkan top foreign sell terbesar. Bagaimana pergerakan hari ini?
Saat ini BUMI diperdagangkan dengan PE 2012 sebesar 7,1 kali dan EV/EBITDA 2,8 kali. “Rekomendasi hold untuk BUMI,”ujar Yualdo Yudoprawiro dari Samuel Sekuritas,Rabu (29/8/2012)
Yualdo menyoroti tertundanya pencairan dana sebesar US$231 juta dari PT Recapital Asset Management yang seharusnya dibayarkan ke BUMI pada 27 Agustus 2012.
Saat ini BUMI tengah berdiskusi dengan Recapital untuk jadwal penarikan yang baru. Manajemen BUMI mengindikasikan bahwa ada kemungkinan jadwal tersebut diperpanjang selama 1 tahun.
Di lain hal, BUMI juga memiliki investasi sebesar US$284 juta di PT Bukit Mutiara yang kemungkinan tidak dapat dicairkan dalam waktu dekat.
Berdasarkan laporan keuangan semester pertama 2012, posisi net gearing BUMI di adalah 5.69 kali.
Menurutnya, penundaan pencairan dana tersebut memberikan dampak negatif untuk BUMI,”Karena dana tersebut semestinya bisa digunakan untuk pelunasan utang perseroan,”katanya.
Fokus pelaku pasar saat ini memang tertuju apakah saham BUMI masih akan turun tajam atau tidak. Hal ini merujuk pada salah satu broker asing besar yang melakukan sell BUMI ratusan ribu lot, akibat memburuknya kinerja keuangan BUMI di kuartal dua 2012.
Seperti diketahui, laba kotor BUMI kuartal dua 2012 turun 14.67% menjadi US$554.076 juta, laba usaha turun 48.17% menjadi US$ 239.165 juta, rugi sebelum pajak US$269.285 juta, dibandingkan laba sebelum pajak pada periode yang sama 2011 sebesar US$463.74 juta.
Adapun rugi bersih mencapai US$334.111 juta, dibandingkan laba bersih kuartal dua 2011 sebesar US$226.7388 juta.
Yang paling mengerikan adalah rasio utang terhadap ekuitas (DER) BUMI Q2-2012 yang mencapai 8.91 kali dibandingkan DER Q2-2011 sebesar 4.53 kali, yang artinya BUMI mencetak hutang baru hampir dua kali lipat selama selama setahun, bahkan jauh lebih tinggi ketimbang DER Q1/2012 sebesar 6.55 kali.
Pada perdagangan Selasa (28/8/2012) kemarin, saham BUMI anjlok 14,6% menjadi Rp 760 per lembar. Emiten batu bara ini juga menjadi top foreign sell, mencapai 87,2 juta saham dari volume perdagangan 370,4 saham senilai Rp289,6 miliar.
Padahal, BUMI pernah mencatat kenaikan harga spektakuler hingga mencapai Rp 8.550 di akhir 2008 lalu.
Abidin, analis teknikal dari Millenium Danatama Securities mengatakan,jatuhnya saham BUMI ini seiring kinerja keuangan yang terus merosot. "Namun, koreksi yang terjadi kemarin membuat BUMI oversold, sehingga ada potensi pembalikan arah menguat,"ujarnya.
Ia pun menilai, saat ini pasar tinggal menunggu waktu penguatan BUMI. “Saya rekomendasikan speculative buy untuk BUMI di Rp720 yang merupakan support kuatnya,”katanya. [ast]