INILAH.COM, Jakarta – IHSG menembus resistance 4.150 tapi rupiah justru melemah tipis. Harapan pasar atas bergulirnya Quantitative Easing (QE) AS berkurang seiring membaiknya data ekonomi AS.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh berkurangnya harapan terhadap akan adanya Quantitative Easing (QE) tahap ketiga dalam waktu dekat. Kondisi ini, cukup membuat dolar AS menarik perhatian pasar sehingga jadi tekanan negatif bagi rupiah.
Membaiknya data-data ekonomi AS, kata Firman, dalam beberapa hari terakhir ini membuat pasar sedikit ragu apakah Gubernur The Fed Ben Bernanke akan mendorong Qunatitative Easing (QE) tahap ketiga atau tidak. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.540 setelah mencapai level terkuatnya 9.485 dari posisi pembukaan 9.495 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Kurs rupiah
di pasar spot valas antar bank Jakarta,Kamis (16/8/2012) ditutup melemah tipis 5 poin (0,052%) ke angka 9.500/9.505 dari posisi kemarin 9.495/9.500.
Data Producer Price Indeks (PPI) AS cukup positif di level 0,6% dari sebelumnya 0,1% dan prediksi 0,5%. Sebenarnya, jika memfaktor data inflasi AS, data-data AS yang dirilis dalam beberapa hari terakhir dan beberapa hari ke depan, cukup beragam.
Tapi, data-data tersebut menunjukan berlanjutnya pemulihan ekonomi AS. Walaupun semalam data inflasi AS menunjukkan angka yang rendah, tapi memabiknya indeks PPI yang dua hari kemarin dirilis menunjukkan tekanan inflasi masih ada di AS.
Inflasi Consumer Price Index (CPI) berada di angka 0,0% untuk Juli 2012 dari prediksi 0,2%. Inflasi year on year turun ke 1,4% dari sebelumnya 1,7%. Angka ini jauh di bawah target The Fed. "Tapi, kalau dilihat dari core CPI-nya, year on year masih berada di atas target 2% di level 2,1% sehingga menunjukkan tekan inflasi," timpal dia.
Kondisi ini, lanjut Firman, akan mendorong sebagian petinggi The Fed untuk tidak mengeluarkan kebijakan QE tahap ketiga atau melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
Apalagi, kata Firman, data-data AS yang akan dirilis nanti malam juga cukup positif. Salah satunya adalah data Building Permit yang angkanya diprediksi menguat 770 ribu dari 760 ribu. Begitu juga dengan indeks manufaktur untuk kawasan Philadelphia yang cukup positif ke -5,0 dari sebelumnya -12,9.
Di lain pihak, kondisi Eropa masih tidak stabil. Walaupun tidak banyak even di Eropa, tapi sentimennya tidak begitu positif. "Kemarin, Perdana Menteri Spanyol memperpanjang pembayaran tunjangan pengangguran yang seharusnya berakhir kemarin, diperpanjang 6 bulan lagi," paparnya.
Kondisi ini, lanjutnya, tentu akan meningkatkan pengeluaran pemerintah dan seharusnya turut menekan anggaran Spanyol lebih lanjut sehingga mempersulit pemerintah untuk mencapai target defisitnya.
Pada saat yang sama, kata dia, permintaan dolar AS juga meningkat jelang libur panjang di pasar domestik juga turut menekan rupiah lebih lanjut. "Permintaan dolar AS naik untuk kepentingan berlibur ke luar negeri. Pada awal Agustus, Bank Indonesia sudah menyatakan, permitaan dolar AS untuk libur ke luar negeri cukup jadi tekanan bagi rupiah," ungkap Firman.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 82,759 dari sebelumnya 82,645. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2274 dari sebelumnya US$1,2288 per euro," imbuh Firman.
Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, market regional sepertinya tidak mau membiarkan pada pelaku pasar beristirahat dengan tenang.“Kalau hanya lihat IHSG dan tren naik yang terlihat sangat kuat pada saham-saham big caps, seharusnya kita tidak perlu khawatir,” kata dia di Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Pada perdagangan Kamis (16/8/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat 18,52 poin (0,45%) ke angka 4.160,508.
Tak perlu khawatir, terutama kata dia, dalam melakukan posisi beli simpansaham, khususnya pada saham-saham big caps/blue chip. “Tapiternyata, Hang Seng Index (HSI) akhirnya hari ini ditutup dibawah 20.000. Indeks HSI ditutup dengan signal bearish,” timpal dia.
Pada intinya, Satrio kembali menjelaskan, posisi beli simpan itu, hanya bagus untuk dilakukan pada saham yang sedang berada dalam tren naik, atau setidaknya dalam trend flat. “Saham dalam tren turun, seperti saham Crude Palm Oil (CPO)atau Bakrie, tidak terlalu menarik untuk dibeli,” ungkap dia.
Tapi, lanjutnya, kalau Anda sudah terlanjur, Anda yang berhitung resikonya. “Sore ini saya hanya pasang posisi jual di harga yang tinggi-tinggi. Kalau laku, berarti saya bisa bersih barang. Tapi kalau enggak, ya sudah, berarti saya masih ada posisi saham,”imbuhnya.