INILAH.COM, Jakarta – IHSG dan rupiah kompak mendarat di teritori negatif. Pasar mencemaskan perlambatan global dan kekhawatiran Yunani tidak mendapatkan dana bailout berikutnya.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah masih didominasi oleh faktor eksternal terutama soal kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia lebih lanjut. Kekhawatiran mencuat setelah data ekonomi Jepang yang juga dirilis melambat.
Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang dirilis melandai jadi 0,3% dari sebelumnya 1,2%. Meski masih positif tapi melambat. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.500 setelah mencapai level terkuatnya 9.470 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (13/8/2012).
Kurs rupiah
di pasar spot valas antar bank Jakarta,Senin (13/8/2012) ditutup melemah tipis 5 poin (0,05%) ke angka 9.485/9.490 dari posisi akhir pekan lalu 9.480/9.485.
Selain itu, lanjut Firman, pasar juga khawatir terhadap ketidakpastian pencairana dana bailout Yunani. Kecemasan itu muncul setelah salah satu petinggi Jerman menegaskan jika Yunani tidak bisa menjalankan komitmen reformasi ekonomi, tidak layak untuk mendapatkan bailout berikutnya.
Secara keseluruhan, menurut dia, pasar masih minim sentimen karena masih menantikan serangkaian data ekonomi yang akan dirilis besok dari zona euro yaitu data PDB Perancis, Jerman, dan zona euro secara keseluruhan. "Selain itu akan dirilis data inflasi dari Inggris," tuturnya.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama kecuali terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa) karena aksi short covering pada euro. Indeks dolar AS menguat ke 82,580 dari posisi kemarin 82,560. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2290 dari sebelumnya US$1,2282 per euro," imbuh Firman.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, resistance 4.150 ternyata masih bertahan. “Aksi beli pemodal asing memang ternyata masih belum cukup besar untuk membuat IHSG bergerak naik,” kata dia di Jakarta, Senin (13/8/2012).
Pada perdagangan Senin (13/8/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) berakhir di 4.102,53 setelah melemah 39,03 poin atau 0,9%.
Satrio menjelaskan, investor asingsendiri memang masih terlihat net buy pada saham-saham utama pilihan merekaseperti PT Astra Internasional (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Jasa Marga (JSMR)dan lain-lain. “Tapi, yang bisa naik signifikan hanya saham-saham yang untuk menjaga IHSG,” ujarnya.
Karena itu, Satrio hanya hanya bisa wait and see. Duduk manis. Sejauh ini, menurut dia, tidak terlihat adanya signal negatif. “Tapi, karena tidak ada signal positif, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa juga,” timpal dia.“Kita lihat besok. Kalau ternyata masih sepi juga, sepertinya kita memang harus nunggu sampai Rabu (15/8/2012)baru market bisa agak ramaisedikit.”