INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Jumat (10/8/2012) ditutup melemah 7 poin (0,73%) ke angka 9.480/9.490 dari posisi kemarin 9.473/9.483.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah akhir pekan ini seiring dirilisnya data dari China yang menunjukkan angka tidak menggembirakan. Kondisi itu memicu kecemasan atas kekuatan ekonomi regional Asia.
Data surplus neraca perdagangan China menyusut ke US$25,1 miliar untuk Juli 2012 dari perkiraan 35,2 miliar dan bulan sebelumnya US$31,7 miliar. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnaya 9.486 setelah mencapai level terkuatnya 9.472 dari posisi pembukaan 9.474 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (10/8/2012).
Sementara itu, lanjutnya, ekspor China hanya naik 1% dari tahun sebelumnya dan dibandingkan ekspektasi 8%. "Selain itu, pelemahan rupiah juga dipicu oleh techincal correction di mana akhir pekan pasar melakukan profit taking," ujarnya.
Tapi, lanjutnya, pelemahan rupiah terbatas. Sebab, di tengah memburuknya data China, pasar berharap, otoritas moneter China akan menggulirkan stimulus. "Apalagi, sentimen dalam negeri sebenarnya mendukung tertahannya pelemahan rupiah," ucap dia.
Pasalnya, kata Christian, pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,4% (year on year) pada semester I-2012, merupakan kenaikan di luar perkiraan. "Artinya, penurunan ekspor bisa diimbangi oleh kenaikan investasi," imbuhnya.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,13% ke angka 82,82 dari sebelumnya 82,68. "Terhadap euro, dolar AS masih ditransaksikan menguat ke US$1,2272 dari sebelumnya US$1,2304 per euro," imbuh Christian.