INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Rabu (8/8/2012) ditutup melemah 7 poin (0,073%) ke 9.474/9.484 dari posisi kemarin 9.467/9.477.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, sentimen berbalik negatif setelah dilaporkan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris oleh Bank of England (BoE). BoE menyatakan, pertumbuhan ekonomi Inggris tidak dapat melampaui level sebelum krisis paling tidak hingga 2014.
Menurutnya, laporan dari Bank Sentral Inggris ini memberikan gambaran bahwa laju pertumbuhan global masih cukup suram untuk periode yang lebih lama dibandingkan ekspektasi sebelumnya. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.486 setelah mencapai level terlemahnya 9.463 dari posisi pembukaan 9.465 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (8/8/2012).
Pasalnya, kata dia, di pasar otomatis terjadi sentimen pengalihan risiko (risk aversion) yang menopang penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang berisiko. "Tapi, pelemahan rupiah tertahan setelah ada pernyataan dari salah satu pejabat The Fed," ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan sinyal bahwa bank sentral AS itu seharusnya menggelontorkan stimulus yang agresif atau quantitatif easing hingga setidaknya tingkat pengangguran AS kembali berhasil turun. Komentar itu datang setelah tingkat pengangguran AS naik ke level 8,3% dari sebelumnya 8,2%.
Bahkan, kata dia, rupiah bisa kembali pulih jika semakin banyak dari anggota The Fed yang menekankan pentingnya stimulus. "Selain itu, pelemahan rupiah juga tertahan oleh intervensi dari Bank Indonesia saat rupiah mendekati area 9.495. Karena itu, level terlemah hari ini tertahan di 9.486," imbuh dia.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,19% ke 82,39 dari sebelumnya 82,28. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2364 dari sebelumnya US$1,2397 per euro," imbuh Christian.