INILAH.COM, Jakarta – Hingga akhir 2012, kinerja emiten batu bara diprediksi memburuk seiring harga yang bakal tertekan akibat naiknya suplai. Rekomdasi jual untuk semua saham batu bara!
Pengamat pasar modal John Veter mengatakan hal itu kepada INILAH.COM. Menurutnya, kalaupun emiten menggenjot penjualan untuk menopang margin, tidak akan banyak membatu. Sebab, hal itu justru menambah suplai batu bara yang justru menurunkan harga batu bara itu sendiri. “Jadi, kalau kita lihat, saham batu bara kurang cocok untuk dipajang sebagai portofolio hingga akhir 2012 ini,” katanya.
Pada perdagangan Selasa (7/8/2012) saham PT Bumi Resources (BUMI) ditutup menguat 40 poin (3,77%) ke Rp1.100, PT Bukit Asam (PTBA) turun Rp300 (1,96%) ke Rp14.950; PT Indo Tambang Raya (ITMG) stagnan di Rp37.100; PT Harum Energy (HRUM) stagnan di Rp5.800; PT Adaro Energy (ADRO) turun Rp40 (2,51%) ke angka Rp1.550; PT Borneo Lumbung Energi (BORN) stagnan di Rp500; PT Resource Alam Indonesia (KKGI) turun Rp50 (1,47%) ke Rp3.350 per saham. Berikut ini wawancara lengkapnya:
Rata-rata saham batu bara masih tertekan. Bagaimana Anda melihat prospeknya hingga akhir 2012?
Saya melihat, saham-saham batu bara untuk sepanjang 2012, kinerjanya bakal memburuk. Karena itu, rekomendasi untuk sektor batu bara memang jual, sell.
Apa alasan Anda?
Sebab, harga batu bara yang turun dan profit margin perusahaan batu bara yang relative mengecil seiring penurunan harga batu bara itu sendiri.
Misalnya?
Misalnya, pada kuartal II-2012, PTBA walaupun volume penjualannya meningkat, tapi profit margin-nya mengecil dan laba bersihnya justru turun. Begitu juga dengan KKGI di mana profit margin mengecil dan laba bersih berkurang dan growth yang negatif. Saham-saham batu bara yang lain pun kondisinya sama. Jadi, kalau kita lihat, saham batu bara kurang cocok untuk dipajang sebagai portofolio hingga akhir 2012 ini.
Apa yang jadi penyebab utama penurunan harga batu bara?
Penurunan harga batu bara dipicu oleh pertambahan suplai dari Indonesia dan Australia yang diperkirakan mencapai 400% atau 4 kali lipat dalam empat tahun ke depan. Ini akibat pembukaan lahan-lahan tambang baru. Selain itu, permintaan dari China dan India mulai berkurang seiring perlambatan ekonomi global. Suplainya banyak, permintaan berkurang, harganya otomatis turun.
Bagaimana dengan emiten yang pandai mengelola kinerja keuangannya?
Kalaupun emiten berusaha keras menambah penjualan, justru memicu penurunan harga batu bara. Sebab, permintaan relatif stagnan.
Di kisaran berapa harga batu bara Anda perkirakan?
Harga batu bara hingga akhir 2012, hanya akan bergerak dalam kisaran US$88-90 per metrik ton. Angka ini, jauh berkurang dibandingkan awal 2012 di mana harga batu bara di US$120 per ton.
Jadi, saran Anda jual untuk saham batu bara?
Semua saham batu bara, tanpa kecuali, saya sarankan jual. Lebih baik saham-saham batu bara dihindari terlebih dahulu hingga akhir 2012—BUMI, PTBA, ITMG, HRUM, KKGI, ADRO dan lain-lain. Jadi, batu bara terimbas negatif oleh perlambatan ekonomi global yang memicu penurunan permintaan dari China dan India.
Selain itu, penambahan suplai untuk batu bara hingga 400% dalam empat tahun ke depan atau 100% per tahun. Jika hanya perlambatan global, memang memicu penurunan harga batu bara, tapi yang paling parah berpengaruh pada penurunan harga batu bara adalah penambahan suplai dari lading-ladang tambang baru baik di Indonesia maupun Australia.