INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Jumat (3/8/2012) ditutup menguat tipis 2 poin (0,02%) ke angka 9.472/9.482 dari posisi kemarin 9.474/9.484.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatkan, sidwaysnya penutupan rupiah dipicu oleh respon pasar atas pernyataan Presiden European Central Bank (ECB) Mario Draghi. Pernyataannya, justru mengurangi harapan pasar bahwa bank sentral akan mengambil langkah baru untuk mengatasi krisis utang Eropa.
Draghi mengatakan, bank sentral akan masuk ke pasar obligasi sekunder tapi tidak spesifik Spanyol atau Italia, dengan syarat bahwa pemerintah Uni Eropa harus siap berkomitmen untuk melakukan pengetatan fiskal dan menggunakan dananya sendiri. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah sempat mencapai level terkuatnya 9.464 setelah melemah ke 9.491 dari posisi pembukaan 9.473 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (3/8/2012).
Akhirnya, Christian menegaskan, pasar kembali sideways, sambil menunggu data non-farm payrolls AS nanti malam. Angka nonfarm payroll AS diprediksi naik jadi 101 ribu dari sebelumnya 80 ribu. Sebab, setelah The Fed gagal untuk memberikan stimulus, jika data tenaga kerja melampaui ekspektasi, nantinya justru akan mengurangi ekspektasi akan adanya stimulus untuk menopang pemulihan perekonomian AS. "Ini jadi positif untuk dolar AS dan negatif bagi rupiah," timpalnya.
Sebab, dengan baiknya data tersebut, peluang Quantitative Easing (QE) menjadi semakin kecil. "Bank sentral tidak akan memberikan sinyal-sinyal kuantitatif yang otomatis akan menekan rupiah," timpal dia.
Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Pelemahan dolar AS semata faktor teknical correction setelah muncul harapan The Fed akan menggulirkan stimulus moneter. Sekarang harapan itu pupus. "Apalagi ini jelang akhir pekan dan jelang risilis data non-farm payrolls AS," tuturnya.
Jadi, Christian menegaskan, penguatan dolar AS semata faktor teknis. Sebab, jika melihat dari kenaikan yield obligasi Spanyal ke 7,4% dan obligasi Italia ke 6,4% untuk tenor 10 tahun seharusnya membuat dolar AS menguat. "Tapi, karena penguatan dolar sudah tajam, akhirnya mengalam koreksi," ucapnya.
Indeks dolar AS melemah 0,29% ke 83,21 dari sebelumnya 83,42. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2208 dari sebelumnya US$1,2182 per euro," imbuh Christian.