Sabtu, 25 Mei 2013 | 10:39 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Nantikan Nonfarm Payrolls AS, Rupiah Sideways
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Jumat, 3 Agustus 2012 | 17:15 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Jumat (3/8/2012) ditutup menguat tipis 2 poin (0,02%) ke angka 9.472/9.482 dari posisi kemarin 9.474/9.484.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatkan, sidwaysnya penutupan rupiah dipicu oleh respon pasar atas pernyataan Presiden European Central Bank (ECB) Mario Draghi. Pernyataannya, justru mengurangi harapan pasar bahwa bank sentral akan mengambil langkah baru untuk mengatasi krisis utang Eropa.

Draghi mengatakan, bank sentral akan masuk ke pasar obligasi sekunder tapi tidak spesifik Spanyol atau Italia, dengan syarat bahwa pemerintah Uni Eropa harus siap berkomitmen untuk melakukan pengetatan fiskal dan menggunakan dananya sendiri. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah sempat mencapai level terkuatnya 9.464 setelah melemah ke 9.491 dari posisi pembukaan 9.473 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (3/8/2012).

Akhirnya, Christian menegaskan, pasar kembali sideways, sambil menunggu data non-farm payrolls AS nanti malam. Angka nonfarm payroll AS diprediksi naik jadi 101 ribu dari sebelumnya 80 ribu. Sebab, setelah The Fed gagal untuk memberikan stimulus, jika data tenaga kerja melampaui ekspektasi, nantinya justru akan mengurangi ekspektasi akan adanya stimulus untuk menopang pemulihan perekonomian AS. "Ini jadi positif untuk dolar AS dan negatif bagi rupiah," timpalnya.

Sebab, dengan baiknya data tersebut, peluang Quantitative Easing (QE) menjadi semakin kecil. "Bank sentral tidak akan memberikan sinyal-sinyal kuantitatif yang otomatis akan menekan rupiah," timpal dia.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Pelemahan dolar AS semata faktor teknical correction setelah muncul harapan The Fed akan menggulirkan stimulus moneter. Sekarang harapan itu pupus. "Apalagi ini jelang akhir pekan dan jelang risilis data non-farm payrolls AS," tuturnya.

Jadi, Christian menegaskan, penguatan dolar AS semata faktor teknis. Sebab, jika melihat dari kenaikan yield obligasi Spanyal ke 7,4% dan obligasi Italia ke 6,4% untuk tenor 10 tahun seharusnya membuat dolar AS menguat. "Tapi, karena penguatan dolar sudah tajam, akhirnya mengalam koreksi," ucapnya.

Indeks dolar AS melemah 0,29% ke 83,21 dari sebelumnya 83,42. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2208 dari sebelumnya US$1,2182 per euro," imbuh Christian.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.