Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 September 2017 | 15:27 WIB

Wait and See Aksi Fed dan ECB, Rupiah Stagnan

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 1 Agustus 2012 | 17:15 WIB
Wait and See Aksi Fed dan ECB, Rupiah Stagnan
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Rabu (1/8/2012) ditutup stagnan pada level 9.464/9.474.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, rupiah tidak mengalami pergerakan yang cukup banyak pada mata uang rupiah dan masih dalam range trading yang cukup sempit. Menurutnya, para investor masih bersikap cenderung menunggu hasil penetapan suku bunga bank sentral AS, The Fed, dan European Central Bank (ECB).

Dia menegaskan, karena tiadanya kepastian arah kebijakan moneter pada kedua bank sentral itu, rupiah stagnan. "Sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.471 setelah mencapai level terkuatnya 9.443 dari posisi pembukaan 9.463 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (1/8/2012).

Sebelumnya, lanjut Christian, Presiden ECB Mario Draghi berjanji akan melakukan segala upaya untuk mempertahankan kelanggengan mata uang euro. "Karena itu, pasar berekspektasi ECB akan kembali memangkas suku bunga acuannya dari level 0,75% saat ini ke level 0,50%," ujarnya.

Pemangkasan suku bunga, lanjut dia, seiring peningkatan kontraksi perekonomian Eropa selama Juli 2012. "Perlambatan itu memicu ketakutan bahwa sektor bisnis maupun konsumen akan semakin terpuruk jika ECB tak kunjung memangkas suku bunga," paparnya.

Apalagi, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Spanyol yang semakin kontraksi -0,4% dan Eropa yang berada di ujung tanduk dengan PDB kuartal I-2012 0,0%. Industrial Production Perancis -1,9% dari 1,4% dan Eropa keseluruhan -1,1%. "Begitu juga dengan data-data di sektor manufaktur yang berkontribusi pada semakin besarnya kontraksi ekonomi Eropa," timpalnya.

Begitu juga dengan The Fed. Meski suku bunga tidak dipangkas, tapi menurut Christian, diekspektasikan akan menggulirkan Quantitative Easing (QE). Terakhir, Fed menggulirkan Operation Twist untuk menurunkan yield obligasi jangka panjang tapi tidak mencetak uang tambahan. "Dengan mencetak uang tambahan, secara otomatis, level pinjaman akan lebih rendah. Tapi, pasti tidaknya QE tersebut masih belum jelas sehingga pasar wait and see dan rupiah pun stagnan," ucapnya.

Alhasil, dolar AS melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS turun 0,05% ke 82,75 dari sebelumnya 82,66. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah 0,05% ke US$1,2308 dari sebelumnya US$1,2299 per euro," imbuh Christian.

 
x