Rabu, 19 Juni 2013 | 17:09 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham Terigu Bakal Tertahan?
Headline
Inilah.com/Agus Priatna
Oleh: Bastaman
pasarmodal - Senin, 30 Juli 2012 | 21:14 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Inilah susahnya hidup di negara yang selalu tergantung pada pangan impor. Ketika harga komoditas tersebut di pasar internasional mengalami kenaikan, harga jual produk turunannya di Tanah Air ikut-ikutan naik. Akibatnya, masyarakat pun menanggung beban. Paling tidak, itu terjadi pada komoditi kacang kedelai dan gandum.

Gandum, contohnya. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga gandum saat ini sudah berada di level US$9,260 per bushel (setara 27,2 kg atau 35 liter lebih). Jika dibandingkan dengan harga akhir Mei lalu (US$ 6,125 per bushel), berarti dalam dua bulan harga gandum sudah naik 51%. Yang menyedihkan, kenaikan harga ini diprediksi berlangsung hingga awal 2013.

Tak ayal, kenaikan harga gandum itu membuat harga terigu di dalam negeri ikut melambung. Contohnya terigu bikinan PT Golden Grand Mills (GGM). Dalam dua pekan terakhir, harga jual terigu GGM sudah naik 18% menjadi Rp 130.000 per karung (25 kg). Natsir Mansyur, Ketua Umum Pedagang Gula dan Terigu Indonesia (Apegti), memperkirakan harga terigu masih akan terus naik. “Akan tembus Rp140.000 per karung,” katanya.

Para analis melihat, kenaikan harga tersebut akan membuat pertumbuhan bisnis industri berbahan baku terigu (makanan) terkoreksi. Jika di awal tahun industri ini diperkirakan akan tumbuh 15%, maka kenaikan harga terigu akan membuat pertumbuhannya melambat jadi 8%-10%. “Enam bulan ke depan tampaknya akan lebih sulit,” papar Hendra Martono, Vice President Brokerage Strategic Development Henan Putihrai Securities.

PT Indofood Sukses Makmur termasuk yang bakal terpukul oleh kenaikan harga tersebut. Secara teknis, enam bulan ke depan saham Indofood bisa menyentuh Rp6.000. Jika merujuk pada harga saham Senin (30/7/2012) yang berada di level Rp 5.400, berarti potensi kenaikan saham berkode INDF adalah Rp600. Tapi, dengan adanya kenaikan harga terigu, saham produsen mie itu akan sulit menembus harga Rp6.000. “Jadi, kita lihat dulu imbas kenaikan harga terigu terhadap kinerjanya,” ujar seorang analis.

Lantas, bagaimana dengan prospek PT Mayora Indah? “Bukannya under estimate, saham ini kurang likuid,” kata si analis tadi. Makanya, dengan adanya kenaikan harga terigu, ia tak berani merekomendasikan saham berkode MYOR tersebut. Hari ini (Senin, 30/7) Myor ditransaksikan di harga Rp 22.050 atau turun Rp 450 (2%) dibandingkan dengan penutupan pekan lalu. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.