INILAH.COM, Jakarta – IHSG menguat tapi rupiah melemah. Pasar pesimistis pertemuan Ecofin zona euro dan Uni Eropa bisa mengakhiri krisis dalam waktu dekat.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah hari ini masih didominasi faktor eskternal seiring pesimisme pasar atas hasil pertemuan para menteri keuangan pada forum The Economic and Financial Affairs Council (Ecofin) pada Senin dan Selasa ini. Senin merupakan pertemuan para menteri keuangan zona euro dan Selasa merupakan pertemuan para menteri keuangan Uni Eropa.
Menurutnya, apa yang diputuskan di zona euro, hanya akan mendapatkan legalisasi dari para menteri keuangan Uni Eropa. Pasar melihat, pertemuan tersebut tidak bisa memberikan rincian rencana yang dapat mengakhiri krisis utang Uni Eropa dalam waktu dekat. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.445 setelah mencapai level terkuatnya 9.415 dari posisi pembukaan 9.420 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (10/7/2012).
Kurs rupiah
terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (10/7/2012) ditutup melemah 20 poin (0,21%) ke posisi 9.425/9.435 dari posisi kemarin 9.405/9.415.
Perkembangan terakhir dari pertemuan tersebut, lanjut Firman, Spanyol diberikan perpanjangan waktu 1 tahun lagi untuk mencapai target defisit fiskal 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). "Yakni yang semula 2013 menjadi 2014," ujarnya.
Selain itu, zona euro juga menyepakati The European Stabtility Mechanism (ESM) akan diperbolehkan untuk merekapitalisasi perbankan. "Tapi, hal ini baru akan terjadi setelah terbentuknya lembaga pengawasan perbankan zona euro. Karena itu, rekapitalisasi perbankan baru akan terjadi mungkin tahun depan," papar Firman.
Yang dipermasalahkan pasar adalah, pertemuan Ecofin itu, tidak membahas sama sekali kebijkan yang dapat meredam gejolak biaya pinjaman obligasi pemerintah di zona euro yang bermasalah. "Sejauh ini belum ada pembahasan mengenai apakah ESM diperbolehkan untuk membeli obligasi pemerintah zona euro. Padahal, pertemuan pekan lalu telah menyetujui hal tersebut," timpalnya.
Alhasil, kata Firman, dengan Ecofin yang tidak membahas masalah obligasi pemerintah, pasar melihat, pembelian obligasi oleh ESM tidak akan terealisasi dalam waktu dekat. "Masalahnya, biaya obligasi bermasalah seperti Spanyol dan Italia masih berada di level kritis," ucapnya.
Pada saat yang sama, pasar juga masih belum mendapat kejelasan apakah Athena akan mendapatkan pelonggaran dalam mencapai target defisitnya. "Apakah Athena akan mendapatkan kucuran dana berikutnya mengingat buruknya track record Yunani dalam menjalankan penghematan fiskalnya," ungkap dia.
Kondisi itulah, kata Firman, yang membuat pasar pesimistis bahwa krisis utang akan mereda dalam waktu dekat sekaligus inilah yang terus menopang performa dolar AS.
Hanya saja, lanjut dia, penguatan dolar AS hari ini tidak signifikan terutama setelah kemarin beberapa petinggi The Fed seperti Charles L Evans dan William C Dudley memberikan indikasi persetujuan untuk perlunya pelonggaran moneter lebih lanjut untuk menstimulasi perekonomian AS. "Jadi, Quantitative Easing (QE) ketiga masih amat mungkin terjadi," papar dia.
Alhasil, dolar AS hanya melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama dan masih kokoh di level penguatannya yang merupakan level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Indeks dolar AS melemah tipis ke 83,071 dari sebelumnya 83,161. "Sementara itu, terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa) dolar AS ditransaksikan stgnan di level US$1,2313 per euro," imbuh Firman.
Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, seperti yang sudah dia bilang, IHSG baru memberikan signal positif kalau bisa ditutup di atas 4.010. “Sekarang, IHSG ditutup di 4.009. Karena itu, signalnya masih belum positif,” kata dia di Jakarta, Selasa (10/7/2012). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat 24,63 poin (0,62%) ke angka 4.009,678.
Begitu juga dengan Hang Seng Index (HSI) yang masih ditutup di area negatif sehingga sore hari ini tidak ada signalnya. “Aliran dana asingnya juga tidak jelas. Pagi net buy, siang net sell, sore net buy lagi. Asingnya juga masih bingung. Kita juga masih tanpa arah,” timpal dia.
Dia menegaskan, kalau menunggu sentimen positif, sepertinya hanya datang dari bursa Eropa. “Eropanya sih cenderung naik. Tapi, Dow Jones Industrial Average (DJIA) nanti malam, masih belum jelas juga. Semua masih belum jelas. Kita lihat besok pagi deh,” imbuhnya.