INILAH.COM, Jakarta - Sekali lagi, prediksi para pelaku pasar kembali meleset. Sebelumnya, mereka meramalkan Jum’at (29/6) kemarin bakal terjadi koreksi. Karena itu, investor diminta untuk ekstra waspada. Tapi, apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan.
Di tengah guyuran sentimen negatif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di akhir pekan di level 3.955,58 atau menguat 68 poin (1,75%). Tak hanya di Jakarta, kenaikan indeks juga terjadi bursa Hong Kong, Korea, dan Tokyo.
Indeks Hang Seng misalnya, menguat 2,19%. Sementara indeks Kospi, Nikkei, dan Straits Times masing-masing mencatat kenaikan 1,91%,1,50%, dan 1,11%. Jadi, semua bursa di kawasan Asia di akhir pekan ini kembali ke jalur hijau.
Hasil KTT Uni Eropa, yang berakhir Jum’at ini, tampaknya menjadi pemicu kenaikan indeks tersebut. Seperti di ketahui, para pemimpin Eropa sepakat mengucurkan dana talangan (bailout) 500 miliar euro untuk mengatasi krisis.
Faktor lainnya adalah data penjualan rumah di Amerika yang berada di atas perkiraan para analis. “Inilah yang membuat bursa mulai bergairah,” kata Reza Priyambada, Managing Research Indosurya Asset Management.
Kendati indeks menunjukan tren meningkat, namun Reza mengingatkan para investor jangan main tubruk. Soalnya, masih ada sentimen negatif yang memungkinkan terjadinya koreksi atas IHSG. Beberapa isu tersebut adalah melambatnya perekonomian China dan India. Itu sebabnya, Reza menyarankan agar koleksi dilakukan secara hati-hati.
Ada beberapa saham yang layak di beli. “Terutama saham sektor ritel dan consumer goods karena akan memasuki bulan puasa,” kata seorang analis dari Kresna Securities. Selain sektor makanan dan eceran, saham perbankan juga layak dipertimbangkan.
Sebut saja saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI). Hingga April lalu, keempat bank tersebut mencapat pertumbuhan laba bersih lebih dari 30%. [mdr]