INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Senin (25/6/2012) ditutup turun 15 poin (0,15%) ke posisi 9.504/9.514 dari posisi akhir pekan lalu 9.489/9.499.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah awal pekan ini seiring aksi hindar risiko dan berpaling ke aset-aset safe haven seperti dolar AS. Menurutnya, jelang penutupan rupiah melemah seiring dengan penguatan dolar AS akibat kecemasan yang tumbuh.
Salah satunya, dipitu oleh Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa yang akhir pekan lalu dilihat pasar tidak menelurkan solusi terbaru atas krisis utang Uni Eropa. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.524 setelah mencapai level terkuatnya 9.438 dari posisi pembukaan 9.491 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (25/6/2012).
Padahal, kata Christian, pasar menginginkan cara konkrit dari pemangku kebijakan di Uni Eropa untuk mengatasi krisis utang dan masalah pelemahan ekonomi regional Eropa. "Pasar melihat belum adanya progres atas solusi terbaru untuk mengatasi krisis," tandas Christian.
Pasar berharap adanya pembelian obligasi baru dari European Central Bank (ECB) yang jadi stimulus di tengah krisis. "Harapan itu tak kunjung datang," tuturnya.
Akibatnya, pada saat yang sama, pasar masih berspekulasi atas depresiasi mata uang euro akibat tekanan Eropa dan terus berlanjutnya krisis keuangan di zona itu. "Karena itu, pelemahan rupiah lebih dipicu oleh aksi hindar risiko untuk beralih ke aset-aset yang relatif aman seperti dolar AS," papar dia.
Sementara itu, kata Christian, dari AS pasar masih menunggu data sektor perumahan AS, consumer confindence, dan laporan sektor manufaktur. "Secara keseluruhan, ketiga-tiganya sudah diperkirakan melemah pada pekan ini," tandasnya.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 81,95 dari sebelumnya 81,71. "Terhadap euro, dolar AS menguat ke US$1,2507 dari sebelumnya US$1,2565 per euro," imbuh Christian.