INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia pada Senin (25/6/2012) berpeluang menguat. Saham dari sektor bisa menjadi pilihan awal pekan ini.
Felix Sindhunata , analis dari Henan Putihrai Sekuritas mengatakan, potensi IHSG untuk menembus level 4.000, lebih terbuka dibandingkan dengan optimisme beberapa pekan lalu. “Secara range, support dan resistance IHSG untuk sepekan depan akan berada di kisaran 3.820 – 4.005,”ujarnya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, pasar saham bergerak negatif dan kecewa, karena ekspektasi QE jilid tiga tidak terjadi di pasar keuangan dunia. Meskipun The Fed memperpanjang operation twist hingga akhir 2012 dan berencana menjual US$ 267 miliar efek jangka pendek dan membeli efek yang memiliki jatuh tempo lebih panjang, guna menurunkan biaya pinjaman dan mendorong ekonomi, “Pasalnya, dengan operation twist, tidak ada likuiditas baru masuk ke pasar,”katanya.
Ada pengurangan alokasi aset pada instrumen safe haven, terlihat dari penempatan terbatas pada aset-aset berisiko rendah di emerging market, termasuk di Indonesia. Sejak awal Juni, posisi net sell asing mencapai Rp 1,72 triliun di pasar saham. Sementara kepemilikan asing terhadap SUN stabil di kisaran Rp 224 miliar, setelah sempat berkurang hingga mencapai titik terendah Rp 222,9 triliun di 12 Juni lalu.
Dalam jangka pendek, imbuh Felix, pasar akan memperhatikan perkembangan di Spanyol serta KTT pemimpin Uni Eropa di Brussels pada 28-29 Juni mendatang. Perkembangan krisis di Eropa akan tetap menjadi driver utama bagi sentimen pasar domestik. Meskipun dari dalam negeri, sentimen pasar terlihat membaik, karena inflasi dinilai bukan merupakan risiko utama. “Stabilitas rupiah menjadi isu penting apabila sentimen pasar memburuk,”paparnya.
IHSG saat ini diperdagangkan dengan PE 2012 sebesar 13,42 kali, dan sektor pertambangan merupakan sektor dengan PE 2012 terendah di 9,10 kali, diikuti sektor perkebunan 9,93 kali. Sementara sektor konsumen tercatat memiliki PE 2012 sebesar 22,40 kali. “Terlihat ada kesempatan menarik dari sisi valuasi apabila kondisi eksternal cukup stabil,”tuturnya.
Di tengah situasi ini, Felix merekomendasikan beberapa emiten dari tiga sektor. Untuk sektor tambang, pilihannya adalah Indika Energi (INDY) dengan target harga Rp 2.240, TB Bukit Asam (PTBA) dengan target harga Rp 20.560, lalu Adaro Energi (ADRO) dengan target harga Rp1.896 dan Timah (TINS) dengan target harga Rp 1.732.
Sementara untuk sektor konsumen, disarankan saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dan Indofood Sukses Makmur (INDF) dengan target harga masing-masing Rp 9.000 dan Rp 5.426.
Adapun untuk sektor perbankan, Felix menjagokan saham BBRI dengan target harga Rp 7.480 dan Bank Negara Indonesia (BBNI ) dengan target harga Rp 4.630 per lembarnya. “Rekomendasi beli untuk emiten-emiten di atas,”tutupnya. [nat]