INILAH.COM, Jakarta - Dampak krisis global yang terjadi saat ini lebih mempengaruhi pasar saham ketimbang obligasi.
"Yang terjadi selama 2012 lebih banyak dampaknya di pasar saham yang mengalami penurunan tajam seperti yang terjadi beberapa hari terakhir. Investor asing melepas kepemilikan saham tidak hanya di Indonesia, tapi di berbagai negara terjadi seperti itu. Jadi kalau secara keseluruhan tahun 2012 saham paling berdampak," ujar Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (22/6/2012).
Sementara, lanjutnya, di obligasi masih terjadi inflow, bahkan minggu kedua Juni terjadi inflow di SBN (Surat Berharga Negara) asing sebesar Rp1,2 trililiun atau secara year to date-nya ada pertumbuhan sebesar Rp1,6 triliun untuk obligasi. "Itu yang terjadi, kenapa terjadi reversal di 2012 terbanyak di pasar saham," tutur Perry.
Menurutnya, kondisinya berbeda dengan paruh kedua tahun lalu yang dampak reversal krisis globalnya lebih banyak di obligasi.
Menyikapi kondisi tersebut, Perry menuturkan langkah yang dilakukan BI adalah menjaga pelemahan ekonomi yang terjadi secara perlahan sesuai dengan pelemahan-pelemahan yang terjadi di kawasan. Bagaimana caranya? "BI terus melakukan intervensi pasar valas, kemudian menerbitkan SBN di pasar sekunder, serta menambah pasokan di pasar valas," tukasnya.
Bank Indonesia juga akan mencermati kelanjutan perkembangan penurunan rating 15 bank besar di dunia oleh lembaga pemeringkat Moody's, yang menurut Perry penurunan rating tersebut tidak akan berdampak terhadap perbankan Indonesia. "Apalagi tingkat kesehatan perbankan dalam negeri cukup baik, berbeda dengan yang tengah dialami perbankan di negara maju. Memang eksposur perbankan global itu sangat kecil. Yang terjadi di sana memang itu yang harus kita cermati,” tuturnya.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada semester dua tahun ini masih berada di jalur yang telah ditentukan. “Kita masih optimis pertumbuhan ekonomi 6,4 persen. Itu didasarkan atas pertimbangan kuatnya konsumsi domestik, tingginya permintaan impor dan derasanya arus modal dan investasi yang masuk ke Indonesia," tukasnya.
Kendati tetap konsisten ekonomi mampu tumbuh di kisaran 6,4 persen, bank sentral tetap waspada terhadap perkembangan ekonomi global yang masih belum menentu. “Tergantung dampak global ke Eropa, China dan Indianya. Ini masih terus berkembang ya. Tapi kita masih tetap konsisten 6,3-6,7 persen,” tambahnya. [hid]