INILAH.COM, Jakarta – Meski kemarin ditutup menguat, tenaga pergerakan indeks saham domestic dinilai masih sangat lemah. Karena itu, jika menguat, pasar justru harus waspada.
Hendra Martono, Vice President Brokerage Strategic Development Henan Putihrai Securities mengatakan, lemahnya tenaga pergerakan indeks tampak dari penguatan kemarin yang hanya terjadi dalam satu jam terakhir yakni baru naik 17 poin dan dua jam sebelumnya cenderung sideways bahkan melemah.
Dia menegaskan, penguatan IHSG kemarin, terjadi 25 menit terakhir sehingga tutup menguat 20,66 poin. Selain itu, volume transaksi berkurang 27,50% dari hari sebelumnya dan volumenya hanya 0,8% dari rata-rata 22 hari. “Artinya, tenaga IHSG sangat lemah. Karena itu, kalaupun indeks mengalami kenaikan, justru pasar harus waspada,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Selasa (19/6/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat 20,66 poin (0,54%) ke posisi 3.880,816 dengan intraday tertinggi 3.884,497 dan terendah 3.853,259. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang naik 4,63 poin (0,70%) ke posisi 662,422. Berikut ini wawancara lengkapnya:
IHSG menguat 20,66 poin kemarin. Bagaimana Anda melihat arahnya Rabu (20/6/2012) ini?
Meski menguat, laju IHSG kemarin sebenarnya cenderung sideways. Dalam satu jam terakhir, IHSG baru naik 17 poin dan dua jam sebelumnya cenderung sideways bahkan melemah. Penguatan IHSG terjadi 25 menit terakhir sehingga tutup menguat 20,66 poin.
Apa arti dari penguatan indeks pada menit-menit terakhir secara teknikal?
Secara teknikal, itu merupakan sinyal bahwa pasar harus hati-hati. Sebab, sehari sebelumnya, IHSG membentuk exhausted gap (gap yang kelelahan) sehingga kemarin, seharusnya indeks melemah. Tapi, tampak terjadi penahanan pada saham-saham sektor infrastruktur dan pertambangan.
Karena itu, untuk Rabu (20/6/2012) ini, jika IHSG tidak mampu menembus resistance 3.909,39 yang merupakan level tertinggi 7 Juni, strategi pasar cenderung sell on strength. Support kuat IHSG di level 3.774,69.
Apa saran Anda untuk pelaku pasar?
Harus berpatokan pada mid price IHSG kemarin berada di 3.869 (harga tertinggi dan terendah dibagi dua). Penutupan kemarin di atas mid price dan dynamic pivot 3.876. Jika IHSG tembus di bawah 3.869, saya cenderung untuk beraksi jual.
Sebab, secara teknikal, IHSG masih memiliki gap yang cukup tinggi di 3.827 pada 15 Juni dan dibuka di 3.860. Pada saat yang sama, untuk mengarah ke resistance 3.909 masih cukup jauh. Masih ada beberapa resistance 3.900 dan 3.890 yang juga cukup kuat.
Bagaimana jika IHSG cukup kuat di atas mid price tersebut?
Tapi, jika mid price cukup kuat, pelaku tak perlu melihat support melainkan apakah resistance bisa ditembus atau tidak. Jika tembus 3.909, saatnya beli saham. Tapi, jika mid price yang ditembus, perhatiakn level support IHSG dan bisa melakukan pembelian saham secara bertahap di level-level support sebesar maksimal 50% dari portofolio karena transaksi dilakukan dengan melawan tren pasar. Apalagi, dalam situasi pasar saat ini yang tidak terlalu stabil saat ini.
Indikator apa saja yang memperlihatkan IHSG tak stabil?
Lihat saja kemarin, memang IHSG naik 0,54%, tapi volume transaksinya berkurang 27,50% dari hari sebelumnya dan volumenya hanya 0,8% dari rata-rata 22 hari. Artinya, tenaga IHSG sangat lemah. Karena itu, kalaupun indeks mengalami kenaikan, justru pasar harus waspada.
Karena itu, untuk transaksi, mid price indeks kemarin bisa jadi patokan hingga pukul 11.00 WIB. Lalu, dari pembukaan hingga pukul 11.00 WIB Rabu (20/6/2012) ini, pasar bisa menentukan mid price baru untuk acuan transaksi hingga sore.
Selain penentuan mid price?
Pasar juga harus memastikan, saham-saham yang dipilihnya mendapatkan sinyal positif dari dua indikator teknikal. Kemudian, pasar juga harus disiplin menentukan level-level profit taking, stop loss, dan trailing stop. Setelah itu, pasar harus mengevaluasi apakah saham yang telah dipilih sudah tepat sesuai ekspektasi atau tidak. Jika tidak, harus segera mengamankan posisi.
Saham-saham pilihan Anda?
Saya rekomendasikan positif empat saham dari sektor perbankan, consumer goods, infrastruktur, dan pertambangan logam. Dengan catatan, untuk saham, juga harus dilihat masing-masing chart-nya.
Saham-saham pilihan antara lain PT Bank Central Asia (BBCA) dengan target profit taking di Rp7.600-7.850 dan stop loss di Rp7.300. Lalu, PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) dengan target profit taking di Rp4.850 dengan stop loss 3% dari entry di Rp4.525.
Lalu, PT Jasa Marga (JSMR) dengan target profit taking di Rp5.400-5.650 dengan level stop loss di Rp4.950 dan PT Aneka Tambang (ANTM) dengan target profit taking di Rp1.410-1.460 target stop loss di Rp1.270 per saham. Secara umum, saham rekomendasikan buy saham-saham tersebut.