INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (18/6/2012) ditutup melemah tipis 7 poin (0,07%) ke 9.400/9.410 dari posisi akhir pekan lalu 9.393/9.403.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, seharusnya rupiah mengalami penguatan seiring kelegaan para investor atas hasil pemilu Yunani yang positif. Menurutnya, dengan kemenangan Partai New Demokrasi dan Pasok, komitmen Athena atas bailout senilai 130 miliar euro akan tetap bertahan.
Dia mengaskan, hasil pemilu Yunani, pada Minggu (17/6/2012) menunjukkan Partai New Demokrasi dan mitra koalisinya Partai Pasok bisa mengamankan komitmen bailout. Tapi, sentimen positif itu tak barlangsung lama setelah perhatian pasar beralih pada lonjakan yield obligasi Spanyol dan Italia. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.443 setelah mencapai level terkuatnya 9.380 dari posisi pembukaan 9.383 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (18/6/2012).
Karena itu, pada mulanya, respon bursa saham regional cukup positif dan nilai tukar euro pun sempat menguat ke level tertingginya dalam sebulan US$1,2747. "Tapi, pasar melihat risiko perbankan Spanyol dan Italia setelah yield obligasi kedua negara itu meroket," ucap dia.
Akibatnya, lanjut Christian, pasar melakukan profit taking seiring yield obligasi untuk tenor 10 tahun meningkat ke 7,11% untuk Spanyol dan 6,04% untuk Italia. "Di sisi lain, pasar juga menanti pertemuan G20 di Meksiko pada hari ini dan besok," imbuhnya.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,23% ke posisi 81,74 dari sebelumnya 81,25. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2647 dari sebelumnya US$1,2655 per euro," imbuh Christian.