INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana mengumpulkan dana besar-besaran untuk mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corp (CIC) senilai US$ 600 juta pada Oktober 2012. Apa pendapat analis?
Betrand Raynaldi, Head of Research Etrading Securities mengatakan, langkah BUMI untuk menjual kepemilikannya dan menarik piutang untuk mendanai kewajibannya, merupakan hal yang positif. Saldo utang jangka panjang BUMI per 31 Desember 2011 mencapai sekitar Rp34,9 triliun.
“Menurut kami, realisasi rencana pelunasan kewajiban tersebut, akan mengurangi beban bunga BUMI yang diharapkan berdampak pada peningkatan kinerja keuangan BUMI ke depannya,”ujarnya, Senin (18/6/2012).
Senada dengan Yuganur Wijanarko dari HD Capital. Menurutnya, rencana BUMI mengurangi jumlah hutangnya, meskipun belum jelas perinciannya, sudah membuat momentum penurunan berkurang.
Ia pun merekomendasikan investor untuk melakukan speculative buy bila masih terjadi downside dengan memperhitungkan stop loss point. “Rekomendasi beli dengan target harga dapat mencapai Rp1.120 per lembarnya,”katanya.
Pada perdagangan Senin (18/6/2012) sesi pertama, BUMI terpantau berada di level Rp1.110. Angka ini naik Rp30 dari penutupan akhir pekan lalu.
Seperti diketahui, BUMI berencana menarik piutang dan mencairkan beberapa aset investasi pada kuartal tiga 2012. Selain melepas kepemilikannya di PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS). Dana itu akan digunakan untuk mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corp (CIC) senilai US$ 600 juta. “Kami akan dapatkan dana itu sebelum Oktober 2012," kata Dileep Srivatava, Direktur BUMI, pekan lalu.
Total nilai utang yang ditarik pada 18 September 2009 itu mencapai US$1,9 miliar, dengan bunga tingkat pengembalian (Internal Rate of Return /IRR) secara keseluruhan mencapai 19%. Dari tiga komitmen, BUMI baru akan menyelesaikan pembayaran komitmen kedua. Bila rencana ini teralisasi, maka utang tersisa tinggal US$700 juta.
Adapun utang diberikan CIC dengan syarat penjaminan, yakni saham milik anak usaha BUMI yakni PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, IndoCoal Resources (Cayman) Ltd., PT IndoCoal Kalsel Resources, PT IndoCoal Kaltim Resources dan the Original Subsidiary Guarantors.
Terkait hal ini, konsensus analis Bloomberg mencatat 10 rekomendasi beli, 2 rekomendasi tahan dan 6 rekomendasi jual dengan target harga Rp2.210 per saham BUMI.
Sedangkan pandangan pesimistis dilontarkan Janson Nasrial, analis dari AM Capital. Ia mengakui, percepatan pembayaran utang memang bisa mengurangi beban keuangan BUMI. Namun, hal itu terjadi kalau sudah ada realisasinya. “Percuma kan kalau hanya bicara tapi tidak ada eksekusinya,”ungkapnya.
Di tengah situasi yang belum pasti ini, ia pun menilai BUMI belum layak untuk diakumulasi. "Rekomendasi saya masih sell untuk BUMI," tutupnya. [ast]