INILAH.COM, Jakarta – Meski tutup di zona positif, saham BUMI sempat rontok ke bawah Rp1.000. Kondisi ini telah membawa ingatan pasar pada 2008 sehingga jadi tekanan jual pada IHSG.
Pada perdagangan Jumat (15/6/2012) saham PT Bumi Resources (BUMI) ditutup menguat Rp50 (4,85%) ke angka Rp1.080 dengan intraday tertinggi Rp1.090 dan terendah Rp970 per saham. Volume transaksi mencapai 234,3 juta unit saham senilai Rp244,2 miliar dan frekuensi 5.907 kali.
Pengamat pasar modal Irwan Ariston Napitupulu mengatakan, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat akhir pekan ini sebesar 26,49 poin (0,70%) ke posisi 3.818,109, indeks sempat melemah dengang intraday terlemah 3.774,693. “Sebab, pasar khawatir atas pelemahan saham PT Bumi Resources (BUMI) yang melemah hingga di bawah level psikologisnya Rp1.000 per saham ke Rp970,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.
Kondisi ini, lanjut Irwan, membuat khawatir para pelaku pasar karena terbayang kasus 2008 di mana saat saham BUMI rontok ke Rp400-an per saham, IHSG pun anjlok ke 2.167,713.“Tapi, pada saat IHSG zeda perdagangan sesi siangJumat (15/6/2012), beredar kabar di antara Blackberry Masangger (BBM) para trader dan analis, yang menyatakan, manajemen BUMI menyangkal persoalan kasus reposahamnya,” ujarn Irwan.
Akibatnya,lanjut dia, saham BUMI berbalik arah dan saham-saham lain juga berbalik arahmenguat. Lalu, beberapa saham yang secara grafik sudah berada di bottom juga mulai rebound. Antara lain saham PT Aneka Tambang (ANTM) yang mengalami pemborongan hebat di menit-menit terakhir.
Begitu juga dengan saham PT Bank Tabungan Negara (BBTN) dengan kode broker ZT. Artinya, di pasar tampak terjadi bargain hunting.“Bargain hunting, sepertinya terjadi pada saham-saham yang berfundamental bagus dan valuasinya sudah murah. Kebetulan, posisi grafiknya pun, jadi positif,” imbuh Irwan.