INILAH.COM, Jakarta – IHSG dan rupiah kompak menguat. Pasar menyambut positif ekspektasi pelonggaran moneter dari berbagai bank sentral di dunia sebagai antisipasi krisis keuangan.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah akhir pekan ini ditopang oleh harapan akan adanya pelonggaran moneter yang terkoordinasi dari berbagai bank sentral besar dunia. Terutama, setelah data inflasi AS dirilis rendah jauh di bawah target The Fed.
Kondisi itu, Firman menegaskan, menambah kekuatan argumen bagi The Fed untuk melongarkan kebijakan moneternya. "Karena itu, rupiah ditutup pada level terkuatnya 9.380 setelah sempat melemah ke 9.465 per dolar AS dari posisi pembukaan 9.430,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (16/6/2012).
Kurs rupiah
terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (15/6/2012) ditutup menguat 30 poin (0,31%) ke posisi 9.380/9.390 dari posisi kemarin 9.410/9.420.
Semalam, inflasi AS dirilis turun ke 1,7% (year on year) untuk bulan Mei atau lebih rendah dari prediksi 1,8% dan bulan sebelumnya 2,3%. Angka ini berada di bawah target The Fed 2%. "Apalagi, dengan data klaim pengangguran AS yang angkanya naik jadi 386 ribu dari prediksi 375 ribu dan bulan sebelumnya 380 ribu," ungkap Firman.
Pada malam ini, lanjut dia, pasar juga dihadapkan pada data sentimen konsumen AS yang angkanya diprediksi memburuk jadi 77,5 dari bulan sebelumnya 79,3. "Ini akan memberikan alasan lebih lanjut bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut," ucap dia.
Pada saat yang sama, Bank of England (BoE) juga mengisyaratkan peluang pelonggaran moneter lebih lanjut. Memang, tadi pagi Gubernur Bank Sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ) yang masih tetap mempertahankan suku bunga di level 0-0,1%, karena masih menuggu hasil pemilu Yunani, pada 17 Juni 2012. "Jika hasil pemilu Yunani buruk, pasar akan melihat pelonggaran moneter oleh BoJ seiring apa yang dilakukan oleh berbagai bank sentral lain di dunia," tuturnya.
Saat krisis Lehman Brothers, BoE, European Central Bank (ECB), Swiss National Bank (SNB), Bank of Canada, dan Bank of Japan, menurunkan suku bunga acuannya secara bersama-sama.
Nah, kata dia, dalam dua tahun terakhir, bank-bank sentral itu, juga melakukan Dollar Swap Agreement yang berhasil meredakan kepanikan terhadap krisis utang di zona euro "Tapi, dengan Dollar Swap Agreement yang masih berlaku hingga awal 2013, bank-bank sentral itu akan mengeluarkan program pembelian aset yang secara umum dilakukan secara bersamaan," ucap dia.
Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 81,764 dari sebelumnya 81,990. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2634 dari posisi penutupan kemarin 1,2626 per euro," imbuh Firman.
Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat 26,5 poin atau 0,7% menjadi 3.818,11.Tapi, indeks gagal tutup di atas resistance 3.825. “Karena itu, baik penguatan maupun pelemahan, IHSG masih labil,” tandasnya. “Apalagi, pasar masih menunggu hasil dari pemilu Yunani, dan masih banyak lagi faktor yang lain.”