INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (14/6/2012) ditutup stagnan pada 9.410/9.430 per dolar AS dibandingkan posisi terakhir kemarin.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, stagnannya rupiah hari ini dipicu oleh tarik menarik sentimen antara negatif dan positif. Sentimen negatif didominasi oleh memburuknya kondisi di Eropa setelah Moody's Investor Service men-downgrade tingkat kredit Spanyol.
Selain Moody's, Egan-Jones juga memangkas peringkat Spanyol sebanyak satu level jadi CCC+. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.460 dan 9.435 sebagai level terkuatnya dari posisi pembukaan 9.435 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (14/6/2012).
Pada saat yang sama, pasar juga khawatir dengan lelang obligasi Italia yang sudah diprediksi hasilnya akan memburuk. Belum lagi, pasar tertekan negatif oleh spekulasi keluarnya Yunani dari Uni Eropa. Pasar masih menunggu hasil pemilu pada Minggu 17 Juni 2012.
Meski begitu, berbagai skenario menunjukkan besarnya peluang Yunani untuk keluar dari zona euro. Sebab, hasil survei yang tidak menunjukkan kemungkinan adanya perubahan posisi pemenang dalam pemilu Yunani akhir pekan ini.
Partai Demokrasi Baru yang probailout masih unggul tapi perbedaannya dengan Partai Syiriza yang antibailout masih tipis sehingga tetap mengharuskan koalisi. "Peningkatan dukungan untuk Demokrasi Baru tidak jauh berbeda dengan hasil pemilu sebelumnya," papar Firman.
Karena itu, lanjutnya, rupiah masih didominasi oleh sentimen eksternal dan kecemasan Eropa yang meningkat jelang pemilu Yunani. "Itulah yang jadi alasan mengapa rupiah sempat mencapai level terlemahnya 9.460 per dolar AS," ucap dia.
Tapi, di sisi lain, pelemahan rupiah bisa dibatasi, seiring munculnya harapan terhadap adanya Quantitative Easing (QE) dari AS jelang pertemuan Bank Sentral The Fed pekan depan. "Harapan itu menguat tertama setelah data kemarin menegaskan pelemahan ekonomi AS dan ancaman rendahnya inflasi di AS," tuturnya.
Data retail sales AS turun -0,2% pada Mei dari bulan sebelumnya -0,2% yang menegaskan masih lemahnya konsumsi masyarakat di AS. Kondisi ini akan mengurangi tenaga pemulihan ekonomi di AS.
Apalagi, kata dia, dengan tekanan inflasi yang rendah dan indeks harga produsen yang turun -1% atau lebih buruk dari sebelumnya -0,2%. Nanti malam, juga akan dirilis core Consumer Price Index (CPI) AS yang diprediksi stabil.
Masalahnya, angka year on year sudah diprediksi melambat jadi 1,8% dari sebelumnya 2,3%. "Jika memang dirilis di bawah 2%, akan menguatkan harapan QE dan memperkuat rupiah. Sebab, target inflasi The Fed adalah 2%," tandas Firman. "Pada akhirnya, rupiah pun ditutup stagnan."
Alhasil, dolar AS hanya melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS turun ke 82,209 dari sebelumnya 82,508. "Terhadap euro, dolar AS masih ditransaksikan stagnan pada US$1,2562 per euro," imbuh Firman.