INILAH.COM, Jakarta – Secara teknikal, indeks saham domestik diprediksi menguat hingga tutup sesi dua. Sinyal dari Eropa pun positif. Inilah empat saham yang layak akumulasi.
Pada sesi pertama perdagangan Senin (11/6/2012), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat 25,10 poin (0,66%) ke level 3.850,43. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang naik 4,38 poin (0,67%) ke angka 656,17.
Pergerakan indeks siang ini cukup ramai didukung oleh volume transaksi yang tercatat mencapai 1,24 miliar lembar saham di pasar reguler dan total mencapai 1,50 miliar. Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp1,43 triliun di pasar regular dari total Rp1,61 triliun dan frekuensi 47.776 kali. Sebanyak 167 saham menguat, sedangkan 77 saham melemah dan 187 saham stagnan.
Sayangnya, penguatan indeks justru diwarnai aksi jual dari investor asing yang mencatatkan transaksi nilai jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp 180,6 miliar. Rinciannya, transaksi beli mencapai Rp533,05 miliar sedangkan transaksi jual sebesar Rp 713,69 miliar.
Mayoritas sektor saham mendukung penguatan indeks. Saham sektor properti memimpin kenaikan 1,37%, disusul keuangan 1,34%, perdagangan 0,82%, pertambangan 0,64%, konsumsi 0,46%, industri dasar 0,43%, manufaktur 0,19%, infrastruktur 0,18%, dan perkebunan 0,27%. Hanya sektor aneka industri yang melemah 0,36%.
Abidin, analis teknikal dari Millenium Danatama Securities memperkirakan, indeks saham domestik menguat hingga penutupan sore nanti. “IHSG akan bergerak pada kisaran support 3.799 dan resistance 3.879,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (11/6/2012).
Menurutnya, secara teknikal indeks berpotensi bertahan di zona positif hingga tutup di sesi dua. Sebab, dari sisi ini, indeks sudah memberikan sinyal bullish. “Meskipun, pasar masih dibayangi oleh krisis makro di Eropa,” ujarnya.
Dia menegaskan, IHSG saat ini berada dalam fase bullish, tapi belum memasuki fase strong bullish. Tren pergerakan indeks pun masih berada dalam tren turun. Untuk memasuki fase strong bullish harus memasuki tren naik yakni jika tembus resistance 3.908. “Jika ini yang terjadi, baru bisa disebut strong bullish,” ujarnya.
Sekarang ini, lanjutnya, bullish IHSG baru sebatas sinyal. Karena masih dalam tren turun, indeks dikhawatirkan, kembali kepada fase bearish.
Sementara itu, lanjutnya, sentimen dari bursa Eropa juga sudah memberikan tanda-tanda yang positif. Tapi, pasar secara umum masih khawatir. Apalagi, dari dalam negeri, sentimen indeks mendapat tekanan negatif dari kasus suap PT Agis (TMPI) dan PT Bhakti Investama (BHIT). “Jadi, transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga ikut terkontaminasi,” ujarnya.
Di atas semua itu, Abidin merekomendasikan positif empat saham dari sektor perbankan, infrastruktur jalan tol, consumer goods, dan sektor industri dasar semen.
Saham-saham pilihannya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang memasuki tren naik setelah berada di atas Rp5.900 sehingga bisa diakumulasi. Begitu juga dengan saham PT Jasa Marga (JSMR) yang memasuki tren naik di 5.150.
PT Unilever Indonesia (UNVR) harganya sudah tinggi sehingga diwarnai profit taking dan baru bisa diakumulasi pada level Rp22.350 dan PT Semen Gresik (SMGR) yang selama di atas Rp11.000 bisa diakumulasi karena dalam tren naik. “Secara umum saya rekomendasikan akumulasi beli saham-saham tersebut. Di-hold pun tak masalah selama berada di atas level-level tersebut,” Abidin.