INILAH.COM, Jakarta - Sepekan kemarin, indeks bergerak fluktuatif, terombang-ambing berita negatif global. Bagaimana pergerakan IHSG pekan ini?
Yuganur Wijanarko dari HD Capital mengatakan, selama sepekan kemarin, IHSG bergejolak di antara berita negatif, seperti data tenaga kerja AS yang di bawah ekspektasi, potensi downgrade hutang AS dan Eropa oleh pemberi peringkat hutang internastional. “Hal ini tampaknya menghapus efek positif dari stimulus China, yakni pemotongan suku bunga,”ujarnya, Senin (11/6/2012).
Profit taking akhir pekan lalu yang membawa indeks ditutup di bawah support 3.830, disebabkan oleh kecewanya pelaku pasar bahwa stimulus AS tidak jelas bentuknya.
Sedangkan makro ekonomi Indonesia mengalami pelambatan pertumbuhan, dengan GDP 2012 sebesar 6,4% diturunkan hingga 6,2%. Ini ditambah potensi pelemahan rupiah hingga 10.000 dan harga komoditas dalam dua bulan ke depan, “Kondisi ini membuat asing masuk di level sekarang berpikir dua kali,”ujarnya.
Namun, selama sepekan kemarin, IHSG berhasil membukukan penguatan tipis sebesar 0,67%. Salah satu sentimen positif terkait dengan inflasi indonesia yang masih terkendali dan pekan ini BI rate akan diumumkan.
Bila dilihat secara teknikal, beberapa indikator di grafik mingguan memberikan sinyal jual, meskipun secara harian memberikan sinyal beli, sehingga time frame yang lebih (weekly) menang. “Ini menandakan bahwa tren masih turun dan taktik buy on weakness lebih bijak, versus mengejar reli,”katanya.
Senada dengan Kepala Riset Henan Putihrai Felix Sindunatha, yang melihat IHSG sudah memasuki supply zone yang mengindikasikan adanya penurunan. Ia pun memperkirakan, IHSG masih akan terkoreksi, meski tidak separah awal krisis,”Indeks pekan ini akan berada di kisaran 3.685-4.071,”ucapnya.
Menurutnya, belum adanya kestabilan dari reli market pekan lalu, karena tidak ada perubahan berarti dari penyelesaian krisis di Eropa. Investor pun disarankan untuk tetap mengedepankan risk management trading yang baik, mengingat tingkat risiko pasar masih tetap tinggi. “Apalagi The Fed belum mensinyalkan adanya kelanjutan stimulus Quantitative Easing (QE) ketiga. Alhasil, kini pasar cenderung wait and see,”katanya.
Di tengah situasi ini, Yuga memilihkan beberapa emiten yang menarik untuk sepekan. Salah satunya adalah emiten perbankan BUMN Bank BRI (BBRI). Emiten big cap yang bergelut di sektor mikro UKM low risk high margin ini. masih diperdagangkan di valuasi PER 2012 rendah sebesar 9 kali, dibandingkan sektor perbankan yang mencapai 11 kali. “Rekomendasi beli BBRI dengan target harga sepekan dapat mencapai Rp6.000,”katanya.
Saham Astra International (ASII), yang menjadi proxy utama bagi fund asing dan lokal untuk entry dan exit dari pasar modal, juga menjadi pilihannya,”Rekomendasi beli dengan target harga Rp6.700,”ujarnya.
Demikian juga saham United Tractors (UNTR) dan saham Alam Sutera (ASRI) dengan target harga masing-masing Rp24.000 dan Rp560 per lembarnya.
Sedangkan untuk trading, Felix merekomendasikan saham-saham seperti Astra Agro Lestari (AALI), Lonsum (LSIP), Astra International (ASII), Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), SIMP, Kalbe Farma (KLBF), XL Axiata (EXCL), AKR Corpindo (AKRA), TB Bukit Asam (PTBA), Bumi Resources (BUMI), Adaro (ADRO) dan Vale Indonesia (INCO). [ast]