Kamis, 23 Mei 2013 | 09:45 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Harap Cemas Eropa, Rupiah Masih Tertunduk
Headline
inilah.com/Agus Priatna
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Senin, 11 Juni 2012 | 06:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Senin (11/6/2012) diprediksi melemah. Pasar masih cemaskan perkembangan krisis keuangan di Eropa.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, potensi pelemahan rupiah awal pekan ini, salah satunya karena pasar akan mulai mengantisipasi pemilu Yunani pada Minggu, 17 Juni 2012. Karena itu, dari eksternal mungkin masih dibayangin kecemasan hasil pemilu Yunani yang kurang positif.

Akibatnya, kata Christian, data makro ekonomi AS tidak terlalu berimbas banyak ke pasar. "Karena itu, untuk awal pekan ini, rupiah masih berpotensi melemah dengan menguji area 9.535 per dolar AS. Kalaupun menguat, akan terbatas di 9.450," katanya kepada INILAH.COM.

Dia menegaskan, pasar akan mencermati kondisi Eropa berikutnya akhir pekan ini dan pekan depan. Pada saat yang sama, pasar akan melihat apakah ada keputusan penting soal penerbitan obligasi bersama Uni Eropa.

Menurutnya, jika sikap Jerman mulai fleksibel atas rencana tersebut, problem atau sentimen negatif di pasar akan mulai berkurang. "Bahkan, kalaupun Yunani ternyata memutuskan keluar dari Uni Eropa dan Spanyol terkena risiko default, sentimen negatifnya akan tertutupi oleh eurobonds itu," ucap dia.

Jadi, faktor Eropa merupakan yang utama terutama juga setelah Lembaga Pemeringkat Fitch Rating men-downgrade peringkat utang Spanyol jadi 'BBB' dari sebelumnya 'A'. "Ini merupakan down grade sebanyak tiga peringkat," ujarnya.

Meskipun, Christian mengakui, tetap ada faktor lain di mana pasar juga akan merespons data unemployment claims pada Kamis (14/6/2012) yang diperkirakan masih mengalami perbaikan dari 377 ribu jadi 381 ribu. "Terutama, setelah pidato gubernur The Fed Ben Bernanke yang secara keseluruhan masih menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ekonomi masih terjadi secara moderat," ucap dia.

Untuk alasan itu, lanjutnya, dari sisi data tenaga kerja, dengan buruknya data nonfarm payroll AS, tidak akan menjadi fokus pasar. "Fokus pasar justru ke Eropa," timpal dia.

Sementara itu, dari China, pada Sabtu (9/6/2012) setelah penurunan suku bunga acuan, pasar fokus pada data inflasi CPI yang angkanya sudah diperkirakan -0,2% dari sebelumnya -0,1% (month to month) dan untuk year on year sudah diperkirakan turun jadi 3,2% dari sebelumnya 3,4%. "Jika angkanya memang masih turun, mengonfirmasi adanya perlambatan ekonomi sehingga berpotensi memperlemah rupiah," tuturnya.

Pasar juga akan mendapatkan rilis data manufaktur di China yang angkanya sudah diperkirakan mengalami rebound tipis dari 9,3% jadi 9,9%. "Pasar juga akan melihat seberapa besar tingkat pinjaman bank-bank di China untuk mendongkrak perekonomian," imbuhnya.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Jumat (8/7/2012) ditutup melemah 29 poin (0,30%) ke posisi 9.483/9.493 per dolar AS.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.