INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan mata uang rupiah sepekan ke depan diperkirakan akan stabil dan cenderung menguat. Hal ini karena ada indikasi perbaikan di sentimen pasar global, dan kalau itu yang terjadi maka IHSG juga akan cenderung membaik dan capital cepat masuk lagi.
"Saya melihat peluang menguat (rupiah) lebih besar dibanding melemhanya," kata pengamat ekonomi, Purbaya Yudhi Sadewa kepada INILAH.COM. Sepanjang perdagangan, Jumat (8/6/2012) kemarin rupiah mencapai level terlemahnya 9.491 setelah sempat menguat ke 9.388 dari posisi pembukaan 9.448 per dolar AS
Lebih lanjut Purbaya yakin, pada akhir semester kedua rupiah akan menguat bahkan hingga di bawah Rp9.000/US$. Hal ini karena dipengaruhi oleh fundamental ekonomi dalam negeri yang masih baik, dan ketidakpastian ekonomi global mulai ada terlihat ujung akhirnya. "Saya melihat peluang besar ekonomi global juga menguat, berita terakhir tidak terlalu hancur sekali," katanya.
Maka dari itu menurut Purbaya kita tidak usah terlalu panik, sebab pelemahan ini hanya sesaat. Ia memperkirakan rupiah akhir semester kedua bisa lebih kuat dari sekarang. "Tidak akan sampai melebihi sepuluh ribu, tenang saja," ucapnya.
Menurut Purbaya, saat ini pemerintah dinilai masih bisa mengendalikan laju inflasi akibat pelemahan rupiah sementara. Kalaupun bakal terjadi krisis yang berimbas pada negara Indonesia ungkapnya itumasih belum mungkin terjadi.
Karena menurutnya, neraca perdagangan terakhir masih positif dan pengaruh tidak hanya disebabkan oleh satu sektor neraca perdagangan saja. "Banyak pengaruh lain yang mesti pertimbangkan," katanya.
Namun, Purbaya menilai wajar jika banyak investor banyak meninggalkan Indonesia sebagai lahan investasi, karena pengaruh ekonomi global. Pertimbangan keamanan modal akibat pengaruh global msih menjadi dominasi pertimbangan mereka. "Negara berkembang memang wilayah berisiko tinggi ketika krisis global meningkat," ujarnya. [hid]