Kamis, 20 Juni 2013 | 02:35 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Chandra Asri Bangun Pabrik Butadin US$150 Jt
Headline
IST
Oleh: Restu A Putra
pasarmodal - Senin, 4 Juni 2012 | 17:44 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) sedang membangun pabrik Butadin sebagai bahan baku karet sintetis yang selama ini di dalam negeri masih impor.

Menurut Vice Senior Presiden PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, Suryandi, progres pabrik tersebut sudah mencapai 44% per April 2011 dan ditargetkan selesai kuartal III 2012. "Pembangunan sudah dilakukan sesuai jadwal," kata Suryandi.

Adapun dana yang disiapkan ungkap Suryandi untuk pembangunan pabrik ini sebesar US$150 juta. Dana tersebut sudah dicairkan di bulan februari 2012. Oleh karenanya Chandra Asri dalam masalah dana proyek pabrik Butadin ini tidak ada lagi masalah. "Dana pembangunan sudah terjamin," ujarnya.

Dana tersebut, kata Suryandi berasal dari empat bank mitra Chandra Asri, di antaranya HSBC, DBS Indonesia dan Singapura, Danamon, dan Standard Chatered Bank.

Sementara belanja modal yang dianggarkan untuk tahun 2012 ini Chandra Asri mengalokasikan sebesar US$100 juta. Dan untuk Butadin tidak sepenuhnya digunakan dari dana capex. "Capex tidak sepenuhnya untuk butadin, tapi biaya belanja modal lain," jelasnya. [hid]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.