Minggu, 26 Mei 2013 | 07:56 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Aksi Forced Sell Tenggelamkan IHSG
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Senin, 4 Juni 2012 | 16:19 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – IHSG ditutup melemah tajam hampir 4%. Aksi forced sell dan keengganan investor mengambil posisi saham ditengarai jadi biangkeroknya.

Pada perdagangan Senin (4/6/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup jatuh 145,1 poin atau 3,8% menjadi 3.654,58. Volume perdagangan mencapai 3,3 miliar saham senilai Rp3,9 triliun.

Perdagangan diwarnai dengan 304 saham jatuh, 14 saham menguat dan 32 saham stagnan. Investor asing dalam posisi net sell hingga Rp231,4 miliar.

Indeks JII turun 4,1%, indeks ISSI turun 4,1%, IDX30 turun 3,8% dan indeks saham unggulan LQ45 turun 4,04%. Pelemahan terdalam dialami saham sektor pertambangan turun 7,6%, disusul saham sektor industri dasar turun 5,8% serta saham sektor perkebunan turun 5,3%.

Indeks hanya bergerak terbatas tanpa mendapat sentimen positif selama perdagangan. Level terendah hari ini di 3.635,28 dan level tertinggi di 3.730,04. Kontrak minyak mentah di pasar Asia turun 1,9% menjadi US$81,6 per barel di Globex Tokyo.

Pasar merespon data tenaga kerja AS yang mengecewakan pada akhir pekan lalu. Angka pengangguran di AS menyentuh 69 ribu lebih sedikit dari yang diprediksi oleh ekonom. Bursa saham Asia juga terpangaruh pelemahan Wall Street akhir pekan lalu. Indeks Hang Seng turun 2,2%, indeks Nikkei turun 1,7%, indeks STI turun 1,4%, indeks Shanghai turun 2,7%, indeks Kospi turun 2,8%, indeks ASX turun 1,9%.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, tekanan jual pemodal asing tidak terlihat signifikan. “IHSG sepertinya terkoreksi lebih dalam karena aksi forced sell dan juga faktor keenganan dari pemodal untuk melakukan positioning,” kata dia di Jakarta, Senin (4/6/2012).

Dia menjelaskan, posisi penutupan dari bursa regional juga masih tidak terlihat adanya signal positif. Posisi wait and see, sepertinya adalah posisi yang paling masuk akal untuk sore hari ini.“Untuksaham-saham batu bara, sepertinya masih ada sisa satu sentimen negatif lagiyakni harga coal Newcastleyang diekspektasikan orang sudah negatif dengan banyak melepas saham batu bara,” papar dia.

Apa yang ditunggu pasar?Menurut dia, kartu masih ditangan Amerika. Jerman terlihat mulai capek menyangga Euro. “Spanyol saja di akhir minggu langsung ke AS untuk kasih solusi. Jadi, hanya berita positif dari Obama, Bernanke, atau Geitner yang bisa bikin market rebound,” ucap dia.

Sementara itu, sentimen positif dari dalam negeri masih minim. BI memang berusaha sekuat tenaga untuk menjaga Rupiah. “Tapi, aksi pemerintah untuk terus mencari pendapatan ekstra, tetap saja berakibat pasar kita sport jantung,” tutur dia.

Target penurunan Dow Jones Industrial Average (DJIA) di 12.100 sudah kena. IHSG pun tembus support 3.700-3.750. Support berikutnya adalah 3.600-3.625. “Tapi ya begitu, bottom adalah bottom, hanya kalau ada resistanceyang ditembus, bottom tersebut jadi dasarnya. Dan sejauh ini, saya tidak melihat adanya berita positif yang bisa mengakhiri trend turun yang tengah terjadi,” imbuh Satrio dengan nada pesimistis.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Rijhon Guntara
Jumat, 11 Januari 2013 | 08:01 WIB
Siap-siap Buy & weakness beberapa saham...seperti : CNKO, SUGI ,DGIK, IGAR, WSKT,BBTN & BBNI serta ADHI
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.