INILAH.COM, Jakarta - Membuka pekan ini, IHSG terancam terkoreksi, terimbas sentimen negatif global.
Yuganur Widjanarko, analis HD Capital mengatakan, indeks awal pekan ini masih berpeluang terkoreksi,"IHSG hari ini akan bergerak di level support 3.750-3.680-3.550 dan resistance 3.900-4.010-4.150,"ujarnya.
Pascadata tenaga kerja yang buruk di AS, The Fed juga berpikir untuk mengeluarkan stimulus Q3. Hal ini bisa menahan downside market ke depan serta menguatkan komoditas, rupiah dan pasar saham global.
Namun, bila masih ada penurunan IHSG di bawah level 3.800 akibat terkoreksinya indeks Dow Jones dan komoditas (minyak), ia merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi di saham big cap yang sudah memasuki level jenuh jual (oversold)
Salah satu pilihannya adalah emiten big cap consumer otomotif, Astra International (ASII). Ia menilai, pascacum stock split, ASII seharusnya mengalami rebound, apalagi sudah memasuki daerah jenuh jual di stochastic harian maupun mingguan (dua time frame).
Emiten penggerak indeks ini sering digunakan sebagai proxy masuk atau keluar di bursa oleh asing,"Rekomendasi beli dengan target harga di level Rp64.400,"katanya.
Saham Aneka Tambang (ANTM) juga menjadi pilihan. Menurutnya, emiten pertambangan ini sudah terkoreksi cukup dalam untuk alasan yang terlalu dibesar-besarkan dan masuk ke daerah oversold. "Rekomen akumulasi untuk skenario reli menutup price gap atas di Rp1.300,"ucapnya.
Demikian juga saham Bank BCA (BBCA) dengan target harga Rp7.300. Dalam koreksi pasar di sektor perbankan, biasanya asing melirik BBCA yang memliki PER paling tinggi, namun secara efisiensi Net profit Margin (NPM) juga tertinggi di antara sesama bank listed.
Yuga juga memilih saham properti residential dengan land bank besar di Bukit Jonggol, Sentul City (BKSL) dengan target harga dapat mencapai Rp245. Emiten ini patut dilirik sebagai calon untuk bargain hunting di daerah oversold bila koreksi pasar masih berlanjut. [ast]