INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham domestik pada Senin (4/6/2012) diperkirakan akan volatile pekan ini. Salah satunya karena gejolak rupiah yang cukup kuat.
Edwin Sebayang, analis dari MNC Securities mengatakan, IHSG masih akan berpotensi mengalami turbulensi hebat pada pekan ini, "Sentimen berasal dari koreksi dalam yang terjadi di bursa Wallstreet akhir pekan lalu,"ujarnya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, koreksi Dow Jones hingga 2,2 % merupakan koreksi terburuk sepanjang 2012, menyusul penurunan laporan sektor tenaga kerja dan pemburukan data ekonomi China dan Zona Eropa. "Koreksi Dow diiringi oleh naiknya fear index (VIX) yang mengindikasikan naiknya resiko di pasar keuangan global,"katanya.
Sementara itu di dalam negeri, bank sentral dan otoritas fiskal dinilai lambat merespon pelemahan rupiah yang disebabkan spekulasi di pasar valas dan capital flight, menyusul peningkatan aktivitas fligt to safety.
Sedangkan riset JP Morgan menuturkan, upaya BI untuk menetralisir gejolak rupiah sudah cukup kuat, dengan terus akan melonggarkan likuiditas dan menambah pasokan dolar di pasar, meskipun menyebabkan cadangan valas di bank sentral turun hingga US$3 miliar pada Mei.
Untuk mengurangi spekulasi di pasar forex, BI menetapkan skema deposito dengan tenor baru, karena menurut BI, kebutuhan dolar ASyang tinggi di pasar forex disebabkan penarikan dana investor asing dan repatriasi profit korporasi.
"Volatilitas rupiah semakin tinggi karena intermediasi perbankan yang tidak efisien dan terbatasnya fasilitas hedging,"ungkapnya.
Di tengah penurunan cadangan devisa hingga US$3 miliar pada Mei, BI menilai rupiah sudah sangat undervalued . BI memperkirakan cadangan devisa akan naik lagi dan mencapai US$123 miliar pada akhir 2012.
Menurut JP Morgan, stress test yang dilakukan BI terhadap perbankan nasional, memperlihatkan bank masih cukup solid dalam permodalan dan likuiditas, dengan bisa mempertahankan CAR 12%, jika terjadi kontraksi pertumbuhan ekonomi hingga menjadi 5%.
Setiap penurunan 1% GDP akan menyebabkan naiknya NPL hingga 2,6% dan CAR turun hingga 18%. Sementara depresiasi hingga 50% pada nilai tukar rupiah tidak berdampak pada CAR.
Menurut JP Morgan, level NPL perbankan Indonesia sudah hampir mendekati level NPL 2008, ketika krisis keuangan yang dipicu subprime mortgage AS.
JP Morgan menilai, situasi perbankan dan moneter Indonesia masih konstruktif , apalagi yield SUN RI dan kontrak rupiah dolar yang diperdagangkan dalam bentuk NDF di offshore market (pasar luar negeri) sudah dalam posisi premium, akan terjadi koreksi di money market/pasar uang. [nat]