INILAH.COM, Jakarta – IHSG dan rupiah kembali kompak melemah tajam. Indeks manufaktur China dan data ekspor Korea Selatan memperburuk sentimen krisis perbankan Spanyol.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh aksi hindari risiko yang memicu sentimen penguatan dolar AS. Terutama, karena pasar masih fokus pada krisis perbankan di Spanyol.
Diperkirakan, menurut dia, kerugian Spanyol baik dari sisi perbankan maupun dari imbas kenaikan yield obligasinya, mencapai 350 miliar euro. Angka ini dilihat pasar sebagai angka yang sangat besar. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.570 setelah menguat ke 9.358 dari posisi pembukaan 9.479 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (1/6/2012).
Kurs rupiah
terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Jumat (1/6/2012) ditutup melemah 103 poin (1,09%) ke 9.498/9.508 dari posisi kemarin 9.395/9.405.
Pasalnya, lanjut Christian, pasar tahu fasilitas European Stability Mechanism saja hanya mencapai 500 miliar euro. "Jika dialokasikan untuk bailout Spanyaol 350 miliar euro, sudah hampir habis. Belum lagi untuk Yunani, Portugal, dan Irlandia," ujarnya.
Sentimen negatif dari Spanyol diperparah oleh data-data ekonomi China yang kembali menunjukkan pelemahan aktivitas pabriknya. Kondisi ini menambah catatan indeks manufaktur China yang jatuh ke bawah ekspektasi yang merupakan titik terendah tahun ini.
PMI Manufacturing Index China versi pemerintah dirilis turun ke 50,4 untuk April 2012 dari bulan sebelumnya 53,3 dan prediksi 52,1. Begitu juga dengan PMI Manufacturing China versi HSBC. Indeksnya turun ke 48,4 dari bulan sebelumnya 48,7 dan prediski 48,4. "Meski angkanya sesuai ekspektasi, penurunan ini menunjukan angka yang sejalan dengan yang dirilis pemerintah," paparnya.
Apalagi, sentimen penguatan dolar AS juga ditopang oleh Korea Selatan yang merilis kinerja ekspor anjlok dalam empat bulan berturut-turut.
Ekspor Korea Selatan masih di angka negatif -0,4% dari sebelumnya -4,8%. Meski angkanya membaik, tapi masih dalam angka yang negatif. "Jadi, kombinasi data-data tersebut membuat sentimen penguatan dolar AS semakin kokoh seiring investor yang bersikap risk aversion (penghindaran risiko) termasuk terhadap mata uang rupiah," imbuh Christian.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,28% ke 83,36 dari sebelumnya 83,17. "Terhadap euro, dolar AS masih ditransaksikan menguat ke US$1,2336 dari sebelumnya US$1,2360 per euro," imbuh Christian.
Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) sebesar 33,06 poin (0,86%) ke 3.799,766, dirinya masih khawatir kalau harga batubara Newcastle masih akan turun, terutama karena berita India tadi pagi yang Produk Domestik Bruto (PDB)-nya turun drastis. “Apalagi, sinyal dari bursa regional tidak ada sinyal positifnya. Jadi, saya wait and see saja,” imbuh dia.