INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (25/5/2012) ditutup melemah 10 poin (0,10%) ke 9.280/9.295 dari posisi kemarin 9.270/9.280.
Analis senior Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, pelemahan rupiah hari ini, salah satunya seiring juga dengan faktor eksternal di mana sejumlah mata uang utama (major currency) mengalami pelemahan yang tajam. Terutama, mata uang tunggal Uni Eropa, euro yang sudah pecah level terendah tahun ini di US$1,2644 per euro.
Sekarang, kata Daru, bahkan dolar AS menguat ke US$1,2514 per euro. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.340 setelah mencapai terkuatnya 9.260 dari posisi pembukaan di level yang sama,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (25/5/2012).
Selain itu, lanjutnya, kekhawatiran pasar masih mewarnai berbagai bursa saham di dunia terutama terkait situasi politik di Eropa menyangkut keluarnya Yunani dari blok 17 negara Uni Eropa. "Pasar melihat ketidakpastian dari Yunani," tandas Daru.
Sebelumnya, mantan Perdana Menteri Yunani Lucas Papademos mengatakan, keinginannya untuk hengkang dari zona euro. Di sisi lain, Perdana Menteri Italia Mario Monti justru menyatakan keyakinannya bahwa Yunani akan tetap bertahan di zona euro. "Kondisi ini menambah ketidakpastian di zona euro," tuturnya.
Apalagi, kata Daru, pertemuan informal dari para pemimpin Uni Eropa atas undangan Jerman dan Perancis tidak memberikan solusi yang konkret terhadap penanganan krisis utang terutama yang sedang dihadapi Yunani.
Sementara itu, usulan Presiden Perancis Francois Hollande terhadap kriteria bailout ditolak oleh Jerman. "Karena itu, pasar tidak melihat adanya solusi konkret atau krisis utang Yunani," ujarnya.
Hollande meminta kriteria khusus yakni alternatif lain untuk menanggulangi krisis. Alternatif itu adalah pertumbuhan ekonomi tetap didorong tapi bailout tetap digulirkan. "Jadi Hollande mengusulkan adanya penghematan dan ada juga alternatif lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tertekan akibat penghematan," imbuh Daru.
Alhasil, dolar AS hanya mengalami technical correction terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Tapi, mata uang utama sebenarnya masih dalam tekanan hebat. Indeks dolar AS turun ke 82,02 dari sebelumnya 82,28. "Terhadap euro, dolar AS melemah ke US$1,2575 dari sebelumnya US$1,2534 per euro," imbuh Daru.