INILAH.COM, Jakarta - Bagi pemain valas, pergerakan mata uang yang seperti bandul jam adalah berkah. Sebab, fluktuasi itu memberikan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.
Seperti sekarang, menguatnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia memberi peluang bagi investor di pasar valuta untung menangguk untung besar. Kondisi inilah, menurut sejumlah pialang, membuat dolar menarik untuk dikoleksi.
Gara-gara krisis Eropa yang kian memburuk, Rabu (16/5) kemarin, the greenback kembali menguat terhadap euro dan yen. Khusus terhadap euro, dolar AS telah sudah diperdagangkan di level US$1.2718. Sedangkan terhadap yen satu dolar ditransaksikan di level 80,47. “Dolar masih akan menguat seiring pekatnya sentimen negatif di benua Eropa,” kata Klara Pramesti, analis BNI.
Penguatan dolar terhadap euro didukung oleh penurunan inflasi tahunan Eropa. Sementara itu fundamental perekonomian Amerika diperkirakan semakin baik. Produksi industri diprediksi naik 4,7%, sementara penjualan perumahan diperkirakan naik 0,6%. Data ini tentu saja makin melambungkan dolar di tengah memburuknya Eropa akibat ketidakpastian di Yunani.
Diperkirakan dolar akan perkasa hingga Juni mendatang, bersamaan dengan hasil pengumuman pemilihan umum di Yunani. Namun dalam dalam perhitungan MacNeil Curry, Head of Foreign Exchange and Interest Rate Technical Strategy Bank of Amerika, dolar masih akan tetap menguat. Terhadap yen, misalnya, dalam jangka pendek dolar akan menembus angka 84. Namun hingga akhir tahun posisinya akan menguat di kisaran 85–88 yen.
Bagi investor, inilah saatnya yang tepat untuk memegang dolar. Soalnya, si mata uang hijau ini akan menguat hingga berlangsung Pemilu di Yunani, Juni depan. Namun demikian, ada kemungkinan dolar akan terus menguat bila hasil pemilu ternyata mengecewakan. [mdr]