INILAH.COM, Jakarta - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) sukses menerbitkan senior notes sebesar US$150 juta meskipun pricing agresif.
Pengembang properti Indonesia Lippo Karawaci menerbitkan obligasi US$150 juta dengan jangka waktu tujuh tahun. Menurut sumber bankir, transaksi ini jelas menggambarkan minimnya surat utang Indonesia yang berkualitas. Perseroan mengeluarkan obligasi dengan ketentuan yang agresif saat pasar sedang lemah. Penawaran ini berhasil menarik permintaan sebesar US$680 juta dari 72 investor.
Sementara itu, obligasi perseroan yang telah beredar juga mengalami pengetatan yang tajam di pasar sekunder. Pada Rabu siang, LPKR mengumumkan
guidance imbal hasil awal sekitar 7,25%. Hal ini sejak semula dianggap agresif dibandingkan dengan obligasi LPKR jatuh tempo 2015, yang memberikan imbal hasil 6,91%. Obligasi LPKR yang baru akan jatuh tempo pada 2019, dengan opsi “call” setelah tahun keempat. “Guidance awal sebesar 7,25% nampaknya cukup ketat khususnya ditengah pasar yang lemah,” kata bankir.
Untuk fair value seharusnya mendekati 8%. Kemungkinan karena hal tersebut mereka hanya mencoba transaksi sebesar US$150 juta. Yang menarik, lanjutnya, para investor kemudian juga membeli obligasi 2015 LPKR, memperketat imbal hasil menjadi 6,5%. Pada saat tersebut guidance imbal hasil 7,25% menjadi lebih menarik.
LPKR juga mengumumkan bahwa obligasi yang diterbitkan terbatas sebanyak-banyaknya US$150 juta. Selanjutnya imbal hasil ini direvisi menjadi 7,125% yang merupakan harga penutupan. Kupon ditetapkan 7% dan obligasi tersebut ditawarkan kembali pada 99,32.
Ada beberapa faktor pendukung keberhasilan transaksi ini, salah satunya pada Selasa lalu, Fitch baru saja menaikkan peringkat LPKR dari B+ menjadi BB-. Selain itu, Perseroan sudah dikenal sebagai penerbit obligasi yang diminati para investor, dengan jumlah penawaran terbatas dan para investor sangat optimis pada bisnis real estat Indonesia.
“Perseroan memiliki track record yang baik dan obligasi Perseroan yang beredar memiliki kinerja baik,” katanya. “Fitch menaikkan peringkat untuk obligasi ini pada Selasa lalu, mengikuti peningkatan peringkat dari S&P (Standard & Poor’s). Hal ini memperkuat posisi Perseroan – dari peringkat single B oleh tiga rating agencies menjadi double B oleh dua dari rating agencies tersebut. [hid]