INILAH.COM, Athena - Pemimpin Partai Sosialis Yunani, sebagai pemenang pemilu dan partai konservatif hari ini melakukan pertemuan untuk membahas keanggotaan negara tersebut dalam Uni Eropa.
Kubu sosialis, Evangelos Venizelos akan beremu dengan pemimpin kubu konservatif, Antonis Samaras untuk membentuk pemerintahan koalisi. Langkah ini sebagai solusi untuk mengatasi krisis politik yang menekan bursa saham global.
Mereka membahas kemungkinan mengadakan pemilu lagi bulan depan. Pembahasan juga untuk menentukan sikap melanjutkan komitmen penghematan anggaran sebagai persyaratan bailout.
Bailout Yunani didukung pemerintahan hasil koalisi partai Demokrasi Baru dan partai Vanizelos, Pasok. Untuk Partai Demokrasi Baru memenangkan pemilu tetapi tidak cukup mayoritas untuk membentuk pemerintahan baru. Sementara Pasok berada di urutan ketiga dari hasil pemilu Minggu (6/5/2012). Perolehan ini sebagai hasil terburuk selama 40 tahun. Demikian mengutip marketwatch.com.
Pejabat tinggi Uni Eropa meminta para pemimpin partai di Yunani untuk memastikan jika negara tersebut ingin meninggalkan euro atau mematuhi persyaratan bailout.
Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy dan Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barrosi mencoba mencari jalan kebuntuan untuk Yunani. Demikian juga dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Menkeu Jerman Wolfgang Schaeuble juga mengharapkan solusi tersebut.
Mereka menyimpulkan Yunani memerlukan pemilu kedua kalinya untuk menentukan komitmen bailout. Walaupun secara pribadi, para pemimpin Uni Eropa khawator kalau Yunani meninggalkan euro. Karena Yunani akan menghindari penghematan yang berpotensi mengalami gagal bayar.
"Tentu kami sangat menyadari situasi yang serius ini. Kami telah menyampaikan secara tegas. Kami adalah salah satu pesan yang datangnya dari mana-mana," kata salah satu pejabat Uni Eropa.