INILAH.COM, Jakarta – IHSG dan rupiah kompak melemah. Pasar mengantisipasi potensi gagal bayarnya Yunani dan keluar dari keanggotaannya di Uni Eropa.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah hari ini salah satunya dipicu oleh dominasi memburuknya sentimen eksternal. Terutama, soal perkembangan terakhir situasi di Yunani pascapemilu Parlemen pada Minggu (6/5/2012).
Menurut Firman, sentimen memburuk setelah Pimpinan Partai Koalisi Kiri Alexis Tsitras mengatakan, komitmen bailout Yunani sudah tidak berlaku lagi pascapemilu. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.240 dan 9.182 sebagai level terkuatnya dari posisi pembukaan 9.210 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (8/5/2012).
Kurs rupiah
di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabut (9/5/2012) ditutup melemah 35 poin (0,38%) ke angka 9.225/9.235 dari posisi kemarin 9.190/9.200.
Itulah, kata dia, yang semakin membuat pasar khawatir jika Tsitras bisa membentuk koalisi pemerintahan. "Akibatnya, cukup besar kemungkinan bagi Yunani untuk tidak dapat dana bailout dari Uni Eropa sehingga bisa mengalami default kembali," ujarnya.
Kondisi itu, menurut Firman, akan memaksa Yunani untuk keluar dari zona euro. Itulah perkembangan terakhir dari Eropa. "Kondisi itu, diperparah oleh data ekspor Jerman yang dirilis hari ini turun jadi 0,9% dari sebelumnya 1,6% sehingga pasar semakin khawatir setelah sentimen terhadap Yunani semakin memburuk," timpalnya.
Situasi Yunani, lanjut dia, membuat pasar khawatir dapat terus memperburuk krisis utang di zona euro. Kondisi ini tampak dari yield obligasi Spanyol untuk tenor 10 tahun yang naik ke 6,01%. "Ini merupakan level pertama kalinya di atas 6% dalam dua pekan terakhir," tuturnya.
Begitu juga yield obligasi Italia dengan tenor yang sama yang naik ke 5,73%. "Lonjakan yield Spanyol dan Italia semakin menunjukkan kecemasan pasar atas potensi memburuknya masalah utang di zona euro," tandas Firman.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 79,929 dari sebelumnya 79,738. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2983 dari sebelumnya US$1,2998 per euro," imbuh Firman.
Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) sebesar 52,01 poin (1,24%) ke angka 4.129,06 membuat posisi pelaku pasar di sore hari ini, menjadi terlalu riskan untuk dilakukan. “Apalagi, kalau melihat potensi koreksi ASII hingga ke Rp65.000-Rp68.000, sepertinya support 4.111 IHSG sulit untuk bertahan. Kita lihat besok,” imbuhnya.