INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (8/5/2012) ditutup stagnan pada level 9.190/9.200 per dolar AS.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, stagnannya penutupan rupiah hari ini dipicu oleh pasar yang tidak ingin membawa pelemahan rupiah lebih jauh. Hal ini terjadi karena momentum jelang keputusan suku bunga (BI rate) oleh Bank Indonesia pada Kamis (10/5/2012).
Selain itu, pasar juga berekspektasi, level 9.200 merupakan level intervensi dari BI meskipun menurutnya, BI tidak melakukan intervensi. Karena itu, rupiah berhasil ditutup stagnan. Tapi, sentimen dari eksternal sebenarnya negatif. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.235 dan 9.190 sebagai level terkuatnya dari posisi pembukaan 9.200,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (8/5/2012).
Meski ditutup stagnan, Firman menjelaskan, rupiah masih berada dalam tekanan negatif yang hebat seiring memburuknya sentimen dari eksternal. "Terutama, dengan ketidakpastian akan kemampuan Yunani untuk membentuk koalisi pemerintahan setelah Partai Demokrasi Baru yang konservatif gagal mendapat dukungan untuk membentuk koalisi itu," ujarnya.
Sekarang, kata Firman, tinggal Partai Sosialis Pasok yang mendapat kesempatan untuk membentuk koalisi. "Jika di luar kedua partai itu seperti Partai komunis KKE yang justru sukses membangun koalisi, sentimen pasar akan semakin negatif karena partai itu justru anti terhadap penghematan fiskal yang jadi syarta bailout," paparnya.
Di sisi lain, lanjutnya, merebaknya kecemasan pasar atas perlambatan ekonomi global juga jadi tekanan bagi rupiah. "Terutama, setelah data-data yang dirilis pagi tadi menunjukkan angka yang negatif," timpalnya.
Data-data tersebut antara lain, dari Inggris dirilis data tingkat harga rumah yang turun 19%. Pada saat yang sama, defisit neraca perdagangan Australia membengkak jadi AU$1,59 miliar.
Kondisi ini, kata dia, memperburuk keadaan setelah AS melaporkan kenaikan angka nonfarm payrolls yang lebih rendah jadi 115 ribu pada April 2012 dari prediksi 173 ribu dan angka bulan sebelumnya 154 ribu. "Apalagi, di tengah situasi Eropa yang dicemaskan pasar soal penanganan krisis utangnya pascapemilu di Perancis dan Yunani," ujarnya.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 79,792 dari sebelumnya 79,603. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,3012 dari sebelumnya US$1,3057 per euro," imbuh Firman.