INILAH.COM, Jakarta – Saham properti dan konstruksi jadi bintang bursa, mengantisipasi kinclongnya kinerja. Apalagi memburuknya sentimen global telah menekan minat atas saham sektor energi dan komoditas.
Purwoko Sartono, analis dari Panin Sekuritas memperkirakan, sektor properti masih akan menjadi fokus trading investor hari ini. Terutama karena perlambatan ekonomi AS dan Eropa masih akan mendominasi sentimen investor asing dan menahan laju pergerakan dana asing ke emerging market.
Menurutnya, sejak awal tahun setelah kontraksi ekonomi dunia mulai kelihatan bentuknya, saham-saham properti Indonesia telah menjadi alternatif investor untuk hedging dan menciptakan likuiditas yang tinggi di tengah turunnya saham sektor energi dan komoditas.
Ini juga didukung kuatnya ekonomi domestik dan rendahnya tingkat pengeluaran utang public (utang rumah tangga). Selain murahnya tingkat suku bunga untuk pembiayaan properti, kendaraan bermotor dan kebutuhan tersier lainnya.
Purwoko pun melihat peluang trading terbuka di saham-saham sektor properti dan konstruksi, terutama di lapis kedua dan ketiga. Beberapa saham pilihannya adalah Adhi Karya (ADHI), Kawasan Indutri Jababeka (KIJA) dan Modernland Realty (MDLN) “Rekomendasi trading buy untuk emiten-emiten ini,”katanya.
Kinerja KIJA pada kuartal empat 2011 di atas ekpektasi, dengan mengalami kenaikan net profit hingga 425% dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan KIJA didukung meningkatnya landbank perseroan setelah melakukan pembelian lahan 2010. KIJA juga berhasil melakukan efisiensi yang menyebabkan laba operasionalnya meningkat tajam.
Bahana Securities memperkirakan, prospek emiten properti industrial estate ini masih akan berlanjut tahun ini, dengan lahan siap bangun sebanyak 500 hektar dan tingginya permintaan industrial estate, karena program infrastruktur pemerintah
“KIJA juga akan mulai mencatatkan pos pemasukan baru, setelah pembangkit listriknya mulai beroperasi penuh pada Juni 2012,”katanya.
Dari sisi valuasi, imbuhnya, saham KIJA masih terbilang murah karena belum banyak terapresiasi harga sahamnya dan belum merefleksikan kinerja kuartal empat 2011. “Kami merekomendasikan buy dengan target harga Rp285,”ujarnya.
Sementara ADHI, emiten BUMN konstruksi dalam waktu dekat akan melakukan diversifikasi bisnis, dengan menjadi pengembang properti. “Konstruksi dan properti adalah dua sektor yang kini menjadi primadona di tengah perlambatan ekonomi global,”ungkap riset Mandiri sekuritas.
Dengan melakukan emisi obligasi senilai 1500 miliar dalam tiga tahun, ADHI akan memiliki dana cukup untuk menyerap permintaan properti dan infrastruktur yang diperkirakan akan tetap tinggi tahun ini. Obligasi ADHI seri sebelumnya yang akan direfinancing sebagian dengan dana emisi obligasi baru ini ditrading dengan yield 7,64%.
Nico Omer Jonckheere dari Valbury Asia Securities menambahkan, sejak pekan lalu saham properti terus diburu investor. Hal ini didukung fenomena placement atau transaksi crossing di saham Ciputra Development (CTRA), sehingga nett buy asing di saham CTRA mencapai 333 miliar.
“Selain kinclongnya kinerja keuangan emiten properti, mengantisipasi peraturan pembebasan lahan yang termuat di dalam UU Agraria (UU no 12/2012),”katanya.
Disebutkan, Pemerintah akan menyiapkan dana untuk menyelesaikan proses akuisisi tanah dalam tiga bulan. Dengan PP ini, maka perusahaan-perusahaan konstruksi BUMN dan infrastruktur jalan tol akan diuntungkan. “Meskipun sudah terefleksi pada apresiasi harga saham sektor tersebut, namun investor masih terus memburu saham konstruksi dan jalan tol, mengingat ruang penguatan masih terbuka,”tuturnya.
Terkait hal ini, Niko merekomendasi saham-saham properti. Terutama yang terimbas PP pembebasan lahan, yang akan membuat nilai tambah signifikan bagi NAV emiten, yang kawasannya dilalui pembangunan infrastruktur jalan tol.
Saham pilihannya adalah Lippo Cikarang (LPCK), Surya Semesta Internusa (SSIA) dan Alam Sutera Realty (ASRI),”Rekomendasi beli saham ini,”tutupnya. [nat]