INILAH.COM, Paris - Presiden Prancis terpilih, Francois Hollande langsung menjadwalkan pertemuan dengan kanselir Jerman Angela Merkel untuk membahas komitmen terhadap penghematan anggaran di Uni Eropa.
Naiknya Hollande juga langsung direspon dengan kekhawatiran. Sebab yang digeser dari kursi presiden adalah Nicolas Sarkozy, tokoh yang gigih mengusul penghematan anggaran. Ini menjadi tugas berat Hollande untuk membuktikan kepemimpinannya akan merangsang pertumbuhan ekonomi khususnya di Prancis.
Setelah mengantongi 51,7 suara, Hollande akan dilantuk pada hari Selasa depan tanggal 15 Mei mendatang. "Dalam setiap modal, di luar pemerintahan dan negara, ada yang menemukan harapan kami sehingga dapat mengakhiri penghematan. Ada banyak kebanggan dan kegembiraan tgetapi juga ketakutan dalam mengambil tanggungjawab pada saat negara sedang sulit termasuk Uni Eropa," katanya seperti dikutip dari marketwatch.com.
Hollan harus cepat merencanakan kebijakan pemerintahannya seputar reformasi pajak, revisi target pertumuhan yang terlalu optimis dan kebijakan penghematan. Langkah yag populer dengan menaikkan usia pensium menjadi 62 tahun. Selain itu tentang upah minimum walaupun menakutkan investor dan berpotensi menjauhkan peran Prancis dari Uni Eropa.
"Kemengangan Hollande telah dihargai oleh pasar. Namun janji-janjinya dalam kampanye belum dihargakan dalam saham. Jadi ada risiko pada sisi negatifnya saat mengumumkan kebijakan tersebut. Saat ini ada kebutuhan dalam merangsang pertumbuhan ekonomi, tetapi solusinya selalu menjadi perdebatan," kata Kristen Jimenez dari Diamant Bleu Gestion di Paris.