Minggu, 26 Mei 2013 | 05:36 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Inilah Saatnya Jual BDMN
Headline
inilah.com/Agus Priatna
Oleh:
pasarmodal - Rabu, 2 Mei 2012 | 13:30 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – DBS Group Holding Ltd menunda akuisisi saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Namun, harga emiten ini sudah melonjak drastis. Analis pun menyarankan investor untuk melepas saham BDMN.

“Investor sebaiknya menjual saham BDMN terkait mundurnya persetujuan akuisisi itu oleh otoritas moneter Indonesia. Apalagi harga BDMN sudah relatif tinggi di tengah spekulasi Tender Offer saham di level 7000,” ungkap analis Nomura Securities.

Saham BDMN pada Rabu (2/5/2012) sesi siang ini terpantau stagnan di level Rp5.950 per lembarnya. Padahal, pada Senin (30/4/2012) awal pekan ini, BDMN ditutup turun 5,08% menjadi Rp 5.600 per saham, setelah sempat anjlok 13,56% menuju Rp 5.100 per saham.

Jatuhnya harga BDMN memang bertepatan dengan pernyataan DBS Group Holdings yang memutuskan untuk menangguhkan rencana aksi korporasi berupa akuisisi saham BDMN senilai US$7,2 miliar. “Dengan mundurnya persetujuan BI, maka proses tender offer tidak relevan lagi.”

Seperti diketahui, DBS mengajukan penawaran akuisisi pada 2 April lalu. Jika lancar, aksi ini akan menjadi pengambilalihan saham perbankan terbesar di Asia Tenggara. Adapun saham BDMN sempat menanjak 50% menjadi Rp 6.900 per saham, setelah pengumuman rencana akuisisi ini, dari sebelumnya yang hanya bergerak di kisaran Rp 4.000-an per saham.

Nomura mengatakan, meskipun BI menunda persetujuan akuisisi BDMN oleh DBS, namun bank Singapura tersebut tetap akan merealisasikan akuisisi untuk integrasi bisnisnya dan memperluas pangsa pasar kredit konsumernya di Indonesia. “DBS akan menunggu selesainya ketentuan soal kepemilikan saham dan approval resmi dari BI,”katanya.

Sejak awal rencana akuisisi bergulir, investor memang lebih banyak disarankan untuk memanfaatkan peluang capital gain terkait TO (tender offer), meskipun setelah mengakuisisi 67,4% saham BDMN akan menaikkan valuasi saham BDMN dalam jangka panjang.

“Ini karena akuisisi yang dilakukan DBS ini dalam jumlah yang cukup besar, di saat harga saham BDMN dalam posisi premium dibanding saham perbankan lain,”paparnya.

Likuiditas yang terjadi pada saham BDMN saat ini lebih banyak terbentuk, karena TO yang membuka peluang upside capital gain. Setelah TO biasanya akan terjadi pengeringan likuditas kembali karena regulasi pasar modal mengharuskan DBS melock-up 20% kepemilikan publik dalam 2 tahun. “Ini akan menyebabkan saham BDMN mengalami stagnasi pasca TO,”terangnya.

Nomura Securities menilai pembelian saham 67,4 % ini cukup tinggi untuk bank dengan ROE yang relatif rendah, dibanding BRI, BCA dan BMRI. Selain itu proyeksi pertumbuhan earning BDMN tidak setinggi big cap perbankan Indonesia lainnya.

Terutama karena BDMN paling terimbas implikasi dari ketentuan LTV (Loan to Value ratio), mengingat 40% portofolio kredit BDMN adalah kredit kendaraan bermotor. Diperkirakan hanya DBS yang berani melakukan pembelian premium terhadap BDMN . “Kecil kemungkinan bank-bank asing regional akan melakukan akuisisi dengan nilai seperti yang ditawarkan oleh DBS,”pungkasnya. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.