Sabtu, 18 Mei 2013 | 21:24 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Gina Novrina Nasution
Enam Saham Layak Akumulasi
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Rabu, 2 Mei 2012 | 03:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Meski IHSG Rabu (2/5/2012) ini diprediksi variatif, tapi enam saham layak akumulasi. Sebab, tren pergerakannya masih bullish. Saham apa saja dan berapa target harganya?

Analis dari Equator Securities Gina Novrina Nasution memperkirakan, indeks saham domestik bergerak variatif seiring variatifnya sentimen eksternal dan internal. Menurutnya, data-data ekonomi yang dirilis di AS menunjukan angka yang variatif. Begitu juga dengan rilis kinerja emiten untuk kuartal pertama 2012 yang sebagian cukup positif tapi sebagian mencatatkan laba yang lebih rendah dibandingkan kuartal pertama tahun lalu.

Gina merekomendasikan positif enam saham yang layak akumulasi dari sektor konsumsi, aneka industri, industri dasar, dan infrastruktur. “Kebetulan sektor-sketor itu yang menjadi leader pergerakan indeks,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Selasa (1/5/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 15,25 poin (0,36%) ke angka 4.195,984 dengan intraday tertinggi 4.196,289 dan terendah 4.170,712. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45 yang naik 3,05 poin (0,43%) ke posisi 714,42. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG menguat ke 4.195. Bagaimana Anda melihat arahnya Rabu (2/5/2012) ini?

Saya perkirakan indeks saham domestik bergerak variatif. IHSG akan bergerak pada kisaran support 4.142 dengan resistance 4.205. Untuk menguat, IHSG butuh sentimen positif baik dari dalam negeri maupun eksternal.

Faktor apa saja yang membuat IHSG variatif?

Sentimen eksternal antara lain, laporan data ekonomi AS yang dirilis semalam seperti Construction Spending dan ISM Manufacturing Indeks. Construction Spending sudah diprediksi naik jadi 0,5% dari sebelumnya -1,1%. Kondisi ini, diharapkan membawa Dow Jones Industrial Index (DJI) pada penguatan dan menambah sentimen positif untuk IHSG. Tapi, ISM Manufacturing Indeks untuk Maret 2012 sudah diprediksi turun jadi 53 dari periode sebelumnya 53,4.

Bagaimana dengan sentiment dari internal?

Dari dalam negeri, pasar hari ini lebih cenderung untuk fokus pada laporan dividen dan laporan keuangan emiten untuk kuartal I-2012. Meskipun, banyak emiten yang merilis laba bersih lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya sehingga secara umum kinerja emiten masih variatif.

Misalnya, emiten PT Multistrada Arah Sarana (MASA) yang penjulannya naik. Tapi, laba bersihnya lebih kecil dibandingkan kuartal tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengalami kenaikan sekitar 23% dibandingkan periode sebelumnya seiring penurunan biaya operasional.

Nasib saham-saham lapis dua bagaimana?

Saya melihat, saham-saham second liner, yang Price Earnings Ratio (PER) masih murah akan menahan pelemahan indeks terutama di sektor konsumsi, aneka industri, industri dasar. Sektor-sektor itu, menahan pelemahan indeks dari efek sentimen negatif dari eksternal.

Saham-saham pilihan Anda?

Saya rekomendasikan positif enam saham yang layak akumulasi dari sektor konsumsi, aneka industri, industri dasar, dan infrastruktur yang menjadi leader pergerakan indeks.

Spesifik saham pilihan Anda?

Salah satunya adalah PT Mayora Indah (MYOR). Secara teknikal, MYOR berada dalam indikator double top sehingga berpotensi menembus resistance Rp20.300. Jika tembus level double top-nya itu, jadi sinyal positif dan saham ini berpotensi menguat ke Rp22.000 per saham.

PT Indofood Sukses Makmur (INDF) yang secara teknikal masih dalam tren bearish jangka pendek. Tapi, saham ini coba bertahan di level support-nya yakni Rp4.600 setelah menguat tajam ke Rp4.800 sekaligus jadi resistance kuatnya saat ini. Pasar menunggu konsolidasi terlebih dahulu dalam jangka pendek. Dilihat dari trennya, ada potensi naik ke Rp5.000.

Saham pilihan di sektor industri?

Begitu juga dengan saham PT Kalbe Farma (KLBF) yang juga layak dikoleksi. Saham ini sudah membentuk pola doji setelah mengalami penguatan tajam dengan support kuat di angka Rp3.800. Walaupun saat ini sedang jenuh beli, saham ini bisa diakumulasi di Rp3.800 atau support kedua di Rp3.675. Secara teknikal, saham ini masih dalam tren bullish.,” tuturnya.

Lalu, PT Semen Gresik (SMGR) yang pola trennya masih bullish. Secara teknikal, saham ini berada dalam pola simetrikal dengan potensi support yang masih cukup kuat. Saham ini mencoba menuju level tertinggi sebelumnya di level Rp12.700.

Sektor infrastruktur?

PT Jasa Marga (JSMR) dengan support kuat Rp5.150 dan saat ini sudah dalam posisi pullback terlebih dahulu. Bisa diakumulasi pada level Rp5.150 atau Rp5.050. Dalam indikator stochastic-nya, masih dalam pola turun.

Begitu juga dengan indikator The Relative Strength Index (RSI) yang memberikan sentimen negatif. Tapi, trennya tetap bullish sehingga bisa diakumulasi di harga-harga support kuatnya itu. JSMR bisa kembali ke Rp5.700 yang merupakan harga tertinggi sebelumnya.

Terakhir, saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang berpotensi menguat terbatas karena kemarin sudah naik signifikan dengan resistance Rp3.700. Sebab, indikator stochastic memberikan sinyal positif dengan support Rp3.450. Secara umum saya rekomendasikan akumulasi di harga support atau dengan pola buy on weakness atau speculative buy saham-saham tersebut.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.