INILAH.COM, Jakarta – Setelah bergerak variatif sepanjang perdagangan, IHSG berhasil parkir di zona hijau. Investor percaya pada positifnya fundamental emiten yang tercermin pada rilis keuangan.
Pada perdagangan Selasa (1/5/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) berakhir menguat 15,2 poin atau 0,3% ke 4.195,98. Level terendah hari ini di 4.170,71 dan tertinggi di 4.196,29.
IHSG mengalami net foreign sell Rp6,3 miliar. Volume perdagangan 4,7 miliar saham senilai Rp3,8 triliun. Dengan total saham aktif hingga 366, tercatat 143 saham melemah, 119 saham menguat dan 104 saham stagnan. Indeks menguat menjelang penutupan setelah sepanjang perdagangan lebih banyak tertekan.
Indeks JII naik 0,4%, indeks ISSI naik 0,35, IDX30 turun 0,3% dan indeks indeks saham unggulan LQ45
naik 0,4%. Penguatan tertinggi dialami sektor konsumer 0,9% disusul sektor aneka industri 0,9%. Sedangkan sektor perkebunan memimpin pelemahan hingga 1,2%.
Analis dari Equator Securities Gina Novrina Nasution mengatakan, krisis global yang dimotori Uni Eropa terutama Spanyol berpengaruh negatif pada bursa saham dunia. “Kondisi itu, tetap memberikan sentimen negatif terhadap IHSG,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (1/5/2012).
Selain itu, dari dalam negeri sendiri, indeks mendapat tekanan negatif dari inflasi April yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, ternyata di atas ekspektasi. BPS mengumumkan, inflasi April 2012 di angka 4,5% (year on year) di atas ekspektasi 4,43%.
Tapi, lanjut Gina, meski di atas ekspektasi angka tersebut masih dalam kisaran yang ditargetkan Bank Indonesia (BI) 4,5% plus/minus 1%. “Kondisi ini, turut jadi sentiment negatif di pasar,” timpalnya.
Di tengah bursa regional Asia seperti Nikkei yang mengalami pelemahan, plus data inflasi, indeks mengalami tekanan. “Tapi, jelang penutupan, IHSG ternyata menguat. Artinya, masih ada kepercayaan dari investor untuk masuk ke saham-saham dengan fundamental yang bagus yang tercermin pada positifnya beberapa kinerja emiten untuk kuartal I-2012,” tuturnya.
Meskipun, lanjut Gina, beberapa emiten mencatatkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. “Tapi, ini tetap positif karena emiten masih bisa mencatatkan laba bersih,” imbuh Gina.