INILAH.COM, Jakarta - Posisi PT Semen Gresik, sebagai raja semen nasional, terancam. Dua pemerintah daerah, tempat anak-anak perusahaannya beroperasi, menuntut pembagian yang lebih besar. Bahkan, Pemprov SulSel mengusulkan agar Semen Tonasa dipisahkan dari sang induk.
Adalah Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo yang mengusulkan pemisahan tersebut. Alasannya, sebentar lagi Tonasa akan membangun pabrik baru, sehingga sudah saatnya perusahaan itu menjadi BUMN tesendiri. “Toh, statusnya tetap BUMN,”katanya.
Tujuan akhir dari usulan Yasin, bisa ditebak, yakni agar Tonasa bisa memberikan pendapatan bagi daerah lebih banyak lagi. Jadi, sebenarnya, sasaran yang dituju tak jauh dengan yang diinginkan Pemerintah Kota Padang. Beberapa waktu lalu, Fauzi Bahar, Walikota Padang, meminta agar SMGR mau membagi sahamnya bagi Pemkot. Soalnya, Pemkot membutuhkan dana yang lebih banyak untuk membangun infrastrktur.
Selama ini, lanjut sang walikota, setoran yang diterima dari Semen Gresik sangat kecil. Total dalam lima tahun, raksasa semen itu hanya membayar Rp38,65 miliar. Itu merupakan kewajiban perusahaan untuk melunasi pajak galian, penerangan jalan dan pajak air.
Lantas berapa besar saham yang diinginkan Pemkot Padang? Wallahualam. Yang jelas, jika dua permintaan dari dua pemda ini dikabulkan, dipastikan kinerja Semen Gresik bakal kedodoran. Sebab dua anak perusahaan tersebut menyumbang produksi yang cukup besar. Semen Padang, misalnya, tahun ini diproyeksikan akan memproduksi 6,5 juta ton. Sementara Semen Tonasa juga akan menaikkan produksinya dari 4 juta menjadi 6,5 juta ton. Jika dijumlahkan, itu berarti sama dengan 59% dari target produksi PT Semen Gresik keseluruhan di tahun ini (22 juta ton).
Entah, bagaimana perusahaan akan menghadapi tuntutan ini. Tapi, untuk sementara, Kementrian BUMN masih mendukung posisi saat ini. “Itu permintaan aneh. Di kala pemerintah sedang sibuk melakukan penggabungan agar bisa lebih efisien, ini malah minta pemisahan,” kata seorang pejabat di Kemeneg BUMN.
Syukurlah, isu negatif ini belum sampai memengaruhi investor di pasar modal. Menurut seorang kepala riset, investor masih tetap memegang saham semen untuk jangka menengah panjang. “Soalnya, pembangunan infrastruktur membutuhkan waktu tahunan,” katanya.
Itu pula yang menyebabkan harga sahamnya yang berkode SMGR, tidak bergerak kencang seperti saham-saham di sektor lainnya. Sejak awal tahun, SMGR hanya menguat 6,1% alias masih di bawah penguatan indeks harga saham gabungan. Tapi sang kepala riset optimistis, dalam beberapa bulan ke depan, efek ini akan menguat minimum 10% dari harga saat ini. Level resistance pertama yang akan segera tersentuh adalah Rp12.500. [tjs]