INILAH.COM, Jakarta - Betul kata Jusuf Kalla (JK), “lebih cepat lebih baik”. Soalnya, gara-gara pemerintah mengulur-ulur penerapan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi, para investor di pasar modal pun menjadi bingung dan sulit membuat keputusan.
Beruntung, masih ada sentimen positif dari pasar modal di dunia.Sentimen prositif yang bertiup dari luar negeri datang dari dari China dan Korea selatan. Kedua Negara di kawasan Asia Timur itu mencatatkan perkembangan ekonomi yang positif. Itu terlihat dari meningkatnya indeks manufaktur dan produksi di kedua negara tersebut selama bulan April.
Kabar baik juga datang dari daratan Eropa. Data penjualan, indeks manufaktur, gross demostic product (GDP), serta tingkat inflasi menunjukan ekonomi di kawasan itu mulai membaik. “Semua bursa memberikan respons positif,” kata Reza Priyambada, Analis Indosurya Asset Management.
Senin, (30/4/2012), beberapa bursa regional mencatatkan kenaikan positif. Jakarta di hari mendatang pun seharusnya bergerak menguat. Sebab, dari dalam negeri pun ada beberapa kabar baik. Sebut saja pengumuman laporan keuangan emiten kuartal I-2012 dan inflasi bulan April yang diperkirakan masih rendah.
Tapi, ya itu tadi, para investor ragu membuat keputusan akibat ketidakjelasan pembatasan konsumsi BBM. “Jangan buat kami bingung, segera putuskan biar jelas,” kata seorang analis PT Kresna Securities.
Ia memang pantas sewot. Sebab, ketidakpastian pembatasan BBM membuat para investor tidak berani melangkah. Apalagi untuk jangka panjang. “Mungkin setelah kepastian BBM jelas, arah bursa baru akan tampak,” kata Reza. Ia memprediksi pekan ini indeks akan bergerak di kisaran 4.142–4.184. “Indeks akan menguat kembali menyusul ekspektasi membaiknya financial di Asia dan Eropa awal Mei,” lanjutnya. [tjs]