INILAH.COM, Jakarta – IHSG dan rupiah kompak menguat. Pasar berekspektasi The Fed akan kembali menggulirkan program stimulus seiring penurunan PDB AS ke 2,2% pada kuartal I-2012.
Analis senior Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh faktor eksternal seiring penguatan yang terjadi pada berbagai mata uang utama seperti euro dan poundsterling sepanjang perdagangan. Menurutnya, pasar masih mengantisipasi pelemahan dolar AS pascarilis Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang turun tajam pada kuartal pertama 2012.
PDB AS dirilis turun jadi 2,2% atau lebih rendah dari ekspektasi 2,5% dan angka kuartal sebelumnya 3%. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terkuatnya 9.182 setelah sempat melemah ke 9.193 per dolar AS dari posisi pembukaan 9.185,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (30/4/2012).
Kurs rupiah
di pasar spot valas antar bank Jakarta,Senin (30/4/2012) ditutup menguat tipis 2 poin (0,021%) ke angka 9.188/9.193 per dolar AS dari posisi akhir pekan lalu 9.190/9.195.
Menurut Daru, pasar melihat, kondisi ini memberikan alasan bagi The Federal Reserve untuk kembali menggulirkan quantitative easing (QE). "Pasar banyak mempertimbangkan potensi pelonggaran moneter atau stimulus ke dalam sistem ekonomi AS," ujarnya.
Kondisi ini, lanjut dia, pasti memperlemah nilai tukar dolar AS dengan sendirinya. Di sisi lain, rupiah justru mendapat sentimen positif dari suksesnya lelang obligasi Italia.
Hanya saja, menurut Daru, pada akhrinya, dolar AS mengalami technical rebound setelah mengalami tekanan hari ini sehingga cenderung menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Termasuk juga, terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa).
Penguatan dolar AS itu, kata dia, mendapat dukungan dari pasar yang sudah mulai mengantisipasi data tenaga kerja AS di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls) yang diprediksi menguat ke 175 ribu dari angka sebelumnya 120 ribu untuk April 2012. Sementara itu, tingkat pengangguran AS diprediksi masih stabil pada 8,2%.
Alhasil, indeks dolar AS menguat ke 78,72 dari sebelumnya 78,70. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke angka US$1,3238 dari sebelumnya US$1,3254 per euro," imbuh Daru.
Dari bursa saham, pengamat pasar modal John Veter mengatakan, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) sebesar 16,7 poin atau 0,4% ke 4.180,73 hari ini dipicu oleh aksi beli dari para fund manager pada detik-detik terakhir sesi dua. “Karena itu, posisi asing berubah dari net sell menjadi net buy,” ujarnya.
Aksi asing itu, kata dia, mengabaikan faktor Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang dirilis turun jadi 2,2% pada kuartal pertama 2012 dari ekspektasi 2,5% dan kuartal sebelumnya 3%. Menurutnya, investor melihat positif kinclongnya kinerja keuangan emiten pada kuartal pertama yang rata-rata mencatatkan laba bersih 25%.
Karena itu, John menilai posisi IHSG saat ini terlalu murah. Seharusnya, dengan memfaktorkan kinerja emiten, indeks bertenger di 4.400. “IHSG tidak punya peluang turun ke bawah 4.100,” kata dia dengan tegas.